Di dalam pembelajaran, seorang guru idealnya mampu menciptakan suasana pembelajaran sedemikian rupa, sehingga siswa aktif belajar untuk mendapatkan pengetahuan (knowledge), menyerap dan memantulkan nilai-nilai tertentu (value), dan terampil melakukan ketrampilan tertentu (skill). Pertanyaannya adalah suasana pembelajaran seperti apakah itu?
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, siswa akan dengan mudah untuk mengikuti pembelajaran kalau pembelajaran berada dalam suasana yang menyenangkan. Dalam suasana yang menyenangkan siswa akan bersemangat dan mudah menerima berbagai kebutuhan belajar. Dalam suasana yang menyenangkan pula siswa akan mampu mengikuti dan menangkap materi pelajaran yang sulit menjadi mudah. Singkatnya suasana yang menyenangkan merupakan katalisator yang bisa mengefektifkan pembelajaran.
Untuk bisa menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, setidak-tidaknya ada 6 (enam) yang bisa dilakukan oleh guru. Pertama, ciptakan suasana ceria sejak awal membuka pelajaran. Suasana yang ceria mendorong siswa untuk berani dan kreatif melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran, seperti bertanya, menjawab pertanyaan, mendemontrasikan ketrampilan, dan sebagainya. Ketika Anda memasuki ruang kelas, usahakan agar wajah Anda tersenyum ramah dan selalu segar betapapun Anda sedang menghadapi masalah. Setelah Anda mengucapkan salam, mulailah menyapa siswa dengan menanyakan kabarnya atau secara spesifik menanyakan kesehatannya, dan sebagainya. Jangan sekali-kali menunjukkan wajah serius apalagi cemberut karena wajah yang demikian akan cepat sekali menyebar kepada siswa dan menciptakan suasana kelas menjadi tegang. Jangan sekali-kali pula Anda marah-marah di awal pembelajaran karena akan menghentikan psikologis siswa untuk belajar. Ingat pesan iklan AXE, pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Kedua, di tengah-tengah pembelajaran, ciptakan humor-humor ringan yang menjadikan seluruhnya tertawa. Kalau siswa bisa tertawa itu berarti Anda telah membantu menghilangkan sekat-sekat psikolgosi yang bisa menghambat pembelajaran, seperti malu, takut, tertekan, dan semacamnya. Secara fisik tertawa juga akan mengendorkan otot-otot penting yang berhubungan dengan sel-sel otak. Tertawa bisa menjadikan otak kita segar dan sehat. Namun demikian, sebaiknya humor tidak dilakukan secara kebablasan. Upayakan agar humor-humor yang ciptakan berkaitan dengan materi yang sedang dipalajari, tetapi jika pun tidak, Anda bisa melakukan rasionalisasi bagaimana agar humor tersebut berkaitan. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau mulai sekarang Anda mengoleksi humor-humor ringan, baik melalui membaca buku atau mengoleksinya dari para humoris. Kalaupun Anda tidak memiliki cerita-cerita humor, Anda bisa memintanya dari siswa. Saya yakin siswa memiliki segudang cerita-cerita lucu. Ketiga, gunakan metode yang bervariasi. Pada umumnya guru sangat senang dengan menggunakan metode ceramah, karena metode ini memang sangat mudah dilakukan. Tetapi metode ini jika dilakukan terus-menerus tidak disukai siswa, apalagi jika dilakukan pada jam-jam terakhir. Bayangkan, betapa lelahnya siswa kalau setiap hari mendengarkan ceramah guru dari jam pertama masuk (biasanya berkisar pukul 07.00) sampai guru yang mengajar di jam terakhir (berkisar pk. 13.00). Bete kan??? Olah karena itu kalau mengajar upayakan agar tidak selalu berceramah. Metode ceramah tetap penting untuk menjelaskan materi pelajaran, apalagi cerita-cerita humor memang hanya bisa dilakukan dengan ceramah, tetapi sesekali cobalah dengan metode lain, seperti diskusi, proyek, demontrasi, jigsaw, dan sebagainya. Metode pembelaharan yang bervariasi sesungguhnya tidak hanya menjadikan siswa senang, tetapi kita pun sebagai guru juga akan menikmati mengajar. Kalau tidak percaya, coba saja!!! Keempat, jangan hanya mengajarkan apa, tetapi juga ajarkan bagaimana atau dengan kata lain jangan hanya teach to know tetapi jga harus teach to learn. Kalau Anda mengajar Matematika Anda jangan hanya mengajarkan materi geometeri atau aljabar, tetapi ajarkan pula bagaimana sih cara mudah untuk berhitung cepat dan akurat. Kalau Anda mengajarkan majas dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Anda juga harus mengajarkan trik-trik menghafal majas secara mudah dan menyenangkan.
Menurut saya, sebetulnya tidak ada siswa yang tidak pandai apalagi bodoh, yang ada adalah siswa yang tidak mengerti bagaimana cara belajar yang tepat. Akibatnya betapapun siswa belajar siang malam, siswa mendapat hasil yang kurang memuaskan. Sekarang, saatnya siswa dilatih tidak hanya belajar keras atau belajar giat, tetapi belajar cerdas. Nah, belajar cerdas akan bisa diwujudkan kalau siswa diajarkan bagaimana cara mempelajari materi pelajaran secara tepat (teach to learn). Kelima, dorong agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Upayakan agar kelas tidak hanya dikuasai oleh Anda tetapi menjadi milik bersama. Jika hanya Anda yang aktif, yakinlah Anda akan kelelahan. Bayangkan seperti apa lelahnya kalau Anda berceramah dari awal sampai akhir kira-kira 90 menit. Kalau dalam sehari Anda punya jadwal di 4 kelas, maka dalam sehari akan dituntut bercemarah selama 360 menit atau 6 jam. Lelah bukan? Oleh karena itu untuk menghindari kelelahan fisik, Anda bisa membagikan pekerjaan kepada siswa. Caranya adalah dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran. Ketika Anda memahami teks bacaan, ajaklah siswa untuk terlibat memahami. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menafsirkan bacaan tersebut. Ketika Anda menjelaskan suatu konsep ajaklah siswa untuk menjelaskan. Berikan kesempatan kepada siswa untuk ikut menjelaskan konsep yang dimaksud.
Memang, diperlukan sedikit waktu dan kesabaran, karena seringkali yang dilakukan siswa tidak langsung seratus persen benar. Tetapi bukankah ketika Anda menjelaskan sebuah konsep juga tidak secara otomatis siswa mampu menangkapnya seratus persen sama?
Yang perlu diingat adalah jangan sekali-kali memberikan cap salah mutlak terhadap apa yang sudah diupayakan siswa walaupun kenyataannya demikian, karena akan mematahkan semangat mereka untuk terlibat. Demikian juga jangan memberikan cap yang tidak menguntungkan kepada siswa, seperti “kamu bodoh”, “kamu payah”, “kamu sulit untuk diajari” dan sebagainya.
Ketika Anda melibatkan siswa dalam pembelajaran dengan disertai sikap sabar dan selalu memotivasi, Anda sebetulnya sedang menghargai diri siswa dan sedang mengeksplorasi potensi siswa. Sebaliknya ketika Anda tidak melibatkan siswa sama saja Anda sedang menutup pintu-pintu motivasi dan pintu-pintu potensi siswa yang sebetulnya bisa diaktualisasikan. Inilah yang sebetulnya mahal dalam pendidikan kita. Keenam, akhir setiap sesi pembelajaran dengan kalimat-kalimat yang memotivasi. Saya pernah mengikuti suatu diskusi komite. Pada saat mengemukakan pendapat, seorang anggota komite, sebut saja namanya Pak Joko, tiba-tiba mengakhiri pendapatnya dengan kalimat-kalimat yang sangat memotivasi. Tuhan pasti akan memberikan makanan kepada setiap burung, tetapi Tuhan tidak akan melemparkan makanan itu ke sarangnya. Kalimat itu sangat berkesan, karena diungkapkan di akhir pembicaraannya.
Nah, pada saat mengajar tidak ada salahnya jika diakhiri dengan kalimat-kalimat yang memotivasi. Anda bisa membuat sendiri rumusan kalimat-kalimat motivasi tersebut atau bisa juga mengoleksinya dari buku-buku motivasi. Kalimat-kalimat motivasi ini penting untuk merawat atau memelihara semangat belajar siswa, bahkan juga merawat semangat kita untuk mengajar. Berikut ini bisa saya kutipkan beberapa kalimat-kalimat yang bisa memotivasi.
Ketekunan ibarat tetetasan air di atas batu besar. Tetesan air yang berlangsung terus-menerus pada akhirnya akan bisa memecahkan batu yang besar.
diambil dari : http://hendryrisjawan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=124:mengajar-dengan-menyenangkan&catid=65:training&Itemid=91
Bagaimana menjadikan belajar yang menyenangkan dan mengasyikkan, berikut beberapa tips untuk dapat mengajar yang dapat menyenangkan peserta didik.
1. Bermain
Sangat manusiawi, jika seorang rela mengeluarkan uang dan meluangkan waktu untuk memenuhi kepuasan bathin melalui perjalanan wisata atau mengunjungi tampat permaian dan hiburan
Belajar tidak selalu berurusan dengan hal-hal yang bersifat serius. Sesungguhnya, kemampuan bermain merupakan unsur penting dalam banyak hal terlebih kreatifitas, bermain mencakup semua bentuk senang-senang, termasuk mainan, olah raga, bercanda, serta aktifitas lain yang mungkin tampak remeh namun dapat memberikan dampak yang begitu besar. Apapun bentuknya, dalam bermain kita menanggalkan sikap serius yang berlebih namun di balik itu kita menemukan beragam sisi baik, dan sisi yang terpenting adalah perubahan. Dalam pelaksanaannya bermain bisa dibagi menjadi tiga :
1. Play / La'bun,
Permainan sederhana, bebas atau tanpa kendali. Dalam permainan ini murid dihadapkan dengan media permainan anak yang beragam dan murid dibebaskan untuk memilihnya, bahkan diharapkan ia dapat mencari media permainan sendiri. Sangat bijaksana jika media permainan tidak terlalu terikat, seperti halnya kebiasaan banyak orang melarang anak bermain sesuatu dengan alasan gender, contohnya, seorang anak laki-laki yang dilarang main masak-masakan. Atau seperti perkataan "perempuan kok main mobil-mobilan". Padahal tujuan pendidikan adalah mempersiapkan anak untuk siap memasuki kehidupannya mendatang, bisa jadi di kehidupan mendatang anak laki-laki tadi berkelut dengan profesi sebagai koki di sebuah restoran, toh banyak koki di restoran berbintang adalah laki-laki, lalu mengapa kita batasi permainan anak lantaran persepsi bahwa bermain masak-masakan adalah mainannya perempuan. Atau seorang anak perempuan yang dilarang bermain mobilan, padahal sudah banyak pengendara mobil yang perempuan bahkan seorang mekanikpun.
Ada juga yang melarang anak bermain dengan alasan bahaya, Setiap kali anak bermain pisau atau api, spontan orang tua atau pendidik malarangnya. Mengapa tidak luangkan waktu satu, dua, tiga jam atau seharian untuk mengajari anak menggunakan sebuah pisau, dengan simulasi yang proporsional. Pastikan anak aman bersama sebuah pisau. Demikian juga dengan api. Pada prisnsipnya semua media bersifat netral tidak ada batasan. Hal terpenting bagi pendidik adalah pengawasan dan memberikan arahan yang benar.
Ingatlah ! perlengkapan permainan yang anda siapkan yang terpenting adalah harus memperluas pemikiran anak. Selanjutnya mari kita perhatikan manfaat-manfaat dari permainan bebas ini.
Manfaat pertama dalam permainan ini adalah Kemandirian. Anak melatih dirinya untuk tidak selalu tergantung dengan orang lain. Mencari, memilih bahkan membuat permainan sesuai dengan kebutuhannya merupakan dasar kemandirian yang dikenal dengan istilah Prinsisp Swadaya yaitu kemampuan seseorang untuk merencanakan sesuatu, melaksanakan, kemudian mengevaluasinya. Seorang yang memilih untuk bermain bola, pasti sudah melakukan sebuah perencanaan. Selama permainan berlangsung berati ia telah melakukan, dan setelah permainan usai dia akan mengadakan evaluasi meskipun sederhana. Setidaknya ia mampu menilai, sejauh mana ia bisa bermain bola.
Manfaat kedua adalah Enjoy atau senang. Bermain yang sesuai dengan kemauan anak pasti berdampak senang pada dirinya, dan merupakan bekal untuk kegiatan selanjutnya. Bayangkan, seorang pelukis ternamapun jika hatinya tidak sedang senang maka tidak akan menghasilkan lukisan yang indah atau bahkan tidak terlukis satu gambarpun.
Kemudian manfaat yang ke tiga adalah Bermain bersama teman. Bermain bersama teman di sini berarti anak dapat memilih teman bermainnya sesuai dengan kemauannya, tidak seperti permainan yang diatur oleh seorang pendidik, karena belum tentu anak menyukai tim yang dibentuknya. Anak dapat bebas memilih teman sesuai dengan komunitas kecilnya yang mempunyai minat bermain yang sama. Anak yang suka bermain karet akan bergabung anak lain yang juga suka dengan permainan karet, anak yang suka memanjat pohon akan bergabung dengan anak yang juga suka memanjat pohon. Dengan demikian keunikan mereka bisa mereka kembangkan bersama-sama.
Manfaat keempat adalah Inisiatif. Anak yang biasa memilih permainan sendiri, cenderung inisiatif, tidak menunggu diperintah untuk memenuhi kebutuhan perkembangannya. Tetapi ia mencoba menjemput bola dan ada energi untuk mengatasi diri dari penghalang-penghalang perkembangannya.
Manfaat kelima adalah Antusias. Ibarat sebuah HP yang yang membutuhkan batere. Agar HP dapat digunakan dengan baik, maka batere tersebut harus dalam keadaan full charge. Untuk mendapat energi yang besar dalam belajar maka seorang murid membutuhkan antusias, sementara untuk mendapat antusias membutuhkan proses charging, proses charging itu adalah bermain.
Manfaat keenam adalah Spontan. Tidak membutuhkan pemikiran yang jelimet bagi anak untuk menyadari bahwa sebuah aktifitas harus segera ditangkap. Mengapa demikian ? Karena anak sudah terbiasa dengan menemukan kebahagiaan melalui permainan mereka. Begitu bel istirahat berbunyi seluruh murid berhamburan ke berbagai tempat untuk menjalankan aktifitas yang menyenangkan masing-masing tanpa membutuhkan pemikiran yang panjang, semua berjalan secara spontan. Inilah Super Training yang mereka dapatkan agar kelak merekapun mampu menemukan cara agar mereka dapat meraih kebahagiaan dengan cara yang cepat dan tidak berlama-lama dalam kekacaubalauan.
Manfaat yang ketujuh adalah kemampuan Mengambil Keputusan. Hampir serupa dengan manfaat yang keenam yaitu spontan dalam hal mampu menangkap aktifitas dengan nyata dan terang, hanya saja pada pengambilan keputusan tidak menuntut waktu yang segera, tidaklah penting sebuah aktifitas dilaksanakan dalam jangka waktu dekat atau waktu yang lama, yang terpenting adalah anak membiasakan diri untuk menemukan jalan mana yang terbaik baginya untuk ia lakukan.
Manfaat selanjutnya adalah Antar guru dan murid terjadi komunikasi, Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi tidak langsung. Ketika seorang anak memutuskan untuk mengambil bola kaki untuk permainannya dan seorang guru memperhatikannya, sebenarnya telah terjadi komunikasi dua arah. Seakan anak tersebut berkata "Wahai guruku, aku senang loh dengan permainan bola", Sang pendidik yang baikpun berkata "Wahai anakku aku tahu apa maumu, aku berjanji akan memberikanmu fasilitas yang baik dan aku akan membatumu sekuat tenagaku agar kamu menjadi pemain bola yang akan mengharumkan bangsa ini".
Luar Biasa ! Sebuah percakapan yang menentramkan hati orang-orang tua murid yang percaya betul menyerahkan perkembangan anaknya kepada sebuah sekolah. Hanya saja komunikasi ini biasanya jarang terjadi. Jika anak sudah asyik bermain biasanya gurupun juga asyik dengan kegiatan sendiri. Saya sangat setuju jika permainan bebas bukan hanya dilakukan untuk mengisi waktu istirahat saja, tetapi masuk dalam rangkaian kurikulum sehingga menjadi perhatian bagi guru untuk melihat sejauh mana motivasi anak terhadap sebuah aktifitas. Class Meeting yang biasa dilakukan sekolah akan memberikan arti yang lebih jika dilakukan di awal masuk sekolah, karena saat itu adalah saat yang tepat untuk menentukan bagaimana membina anak dalam satu tahun kedepan berdasarkan potensi anak yang terlihat pada kegiatan Class Meeting tersebut. Kenyataan yang ada adalah hampir terjadi di banyak sekolah pelaksanaan Class Meeting hanya dilakukan sebagai pengisi keluangan waktu setelah ujian sekolah, sehingga sulit terjadi komunikasi antara guru dan murid karena gurupun mempunyai kesibukan lain yaitu mengisi raport.
Manfaat yang terakhir adalah Nilai minat siswa dapat terbaca. Pada fase ini guru tidak sekedar tahu apa yang diinginkan murid, tetapi lebih dari itu. Guru mampu memberikan penilaian tentang seberapa trampil seorang murid mampu mengembangkan keunikkannya.
2. Game / Musabaqoh
Seorang guru atau salah satu anak menjadi kendali pada permainan ini. Murid tidak lagi seenaknya bermain karena sudah mulai ada aturan dan penilaian, bahkan seringkali permainan ini menjadi sebuah pertandingan. Beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam menentukan model permainan ini adalah :
• Goal setting , Tujuan Pembelajaran
• Judul, Tema
• Planing, Tehnik Bermain
• Media, Sarana atau perlengkapan permainan
Nah, bagaimana cara membuat sebuah permainan, berikut ini saya akan memberikan contoh.
Langkah pertama adalah anda tentukan Tujuan Pembelajaran yang akan dicapai. Misalnya, Siswa diharapkan dapat menyusun sebuah kalimat. Langkah kedua adalah membuat judul atau tema permainan yang sesuai dengan sesuatu yang sedang populer saat itu, Anggap saja saat ini adalah bulan Ramadhan, oleh karena itu tema permainan yang akan anda buat adalah "RAMADHAN". Langkah ketiga adalah membuat aturan mainnya atau Tehnik Bermain, seperti :
1. Buatlah kelompok dengan jumlah peserta delapan orang. Kenapa delapan orang ? karena sesuai dengan jumlah huruf yang ada pada kalimat "RAMADHAN" yaitu delapan huruf.
2. Masing-masing peserta mendapatkan satu huruf, pegang huruf tersebut dengan kedua tangan dan letakkan di atas dada masing-masing. Posisi satu kelompok berbanjar. Seperti contoh :
3. Apabila Anda menyebutkan kalimat sambil mengangkat tangan, maka peserta menyusun huruf-huruf tersebut menjadi kalimat yang disebutkan dengan cara berpindah tempat. Kalimat yang anda buat tidak boleh keluar dari huruf yang ada pada kalimat "RAMADHAN" contohnya "RAHMAN" Anda perintahkan, maka ucapkan, "Siap", "selesai" atau "Allahu Akbar" dan bisa digunakan untuk menyampaikan pesan tertentu, maka sampaikanlah dengan kemasan sebuah cerita yang dikaitkan dengan tema. Berikut saya berikan contohnya :
•Bulan puasa adalah bulan dimana orang berima diwajibkan berpuasa, Makan dan minum di siang hari yang biasanya dihalalkan, pada bulan puasa ini makan dan minum di siang hari hukumnya adalah ..............HARAM.
·Ada banyak orang yang berpuasa tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali haus dan lapar. Mereka adalah orang yang tidak bisa menahan........... MARAH.
•Salah satu hikmah dari berpuasa adalah kepedulian, saling mencintai dan berkasih sayang. Kasih sayang sesuai dengan nama Allah yaitu ......... RAHMAN
•Allah memberikan keringanan bagi mukmin untuk tidak berpuasa apabila sakit atau dalam perjalanan, termasuk jika kalian berjalan jauh sampai masuk ke dalam hutan, anak-anak tahu siapa yang tinggal di dalam hutan ?.... (arahkan jawaban keTarzan), Pernah nonton film Tarzan Betawi ? Siapa yang berperan sebagai tarzan selain benyamin ...... MANDRA.
•Kalimat seperti "Mandra" sesekali boleh dimunculkan agar suasana bermain semakin bergembira. Apabila pembuatan kalimat terpaksa keluar dari tema, hal tersebut dibolehkan asal pesan tidak keluar dari materi pendidikan, seperti contoh :
•Sebelum sholat kita disyaratkan untuk berwudhu, agar jiwa dan raga kita menjadi bersih, wudhu harus selalu dijaga agar kita tetap mendapatkan pahala, salah satu yang menyebabkan batalnya wudhu kita adalah apabila kita menyentuh........DARAH.
•Janganlah kamu dekati sholat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, minuman yang memabukan yang disebutkan dalam al Qur’an adalah ........ HAMAR. Atau bisa juga kita arahkan ke bidang studi lainnya, seperti :
•Salah satu makhluk hidup adalah pohon, sama seperti manusia pohonpun juga membutuhkan makanan, hanya saja cara mereka makan berbeda dengan manusia, salah satu bagian dari pohon adalah ........ DAHAN.
•Banyak lagi kalimat yang bisa anda buat yang tidak keluar dari kalimat "RAMADHAN" seperti, ADAM, ARMADA, AMAR, DAMAR dsb.
Langkah terakhir adalah menentukan Media atau Perlengkapan Permainan.
•Huruf dibuat agak besar agar terlihat dari jarak 6 – 8 meter.
•Bahannya bisa terbuat dari kertas tebal atau triplek.
•Warna huruf diusahakan dengan warna yang mencolok dan dibedakan warna kelompok. Jika ada 4 kelompok maka dibutuhkan 4 kalimat "RAMADHAN" dengan 4 warna berbeda.
3. Sport / Riyadhoh
Permainan jenis ini meski sudah mempunyai aturan baku baik nasional ataupun internasional, namun bisa juga kita sajikan dalam bentuk yang berbeda dalam rangka melejitkan kreatifitas. Ada jenis olah raga yang tidak hanya menjadikan kita merasa riang dan berfikir jernih, tetapi juga mendorong kerja sama dalam kelompok dan cara berfikir strategis. Pikirkan saran-saran berikut ini :
•Selenggarakanlah Fun Bike bersama murid-murid anda dengan menjelajah ke berbagai tempat yang belum pernah dikunjungi.
•Selenggarakan pertandingan sepak bola di lapangan pasir untuk anak-anak dan orang tua mereka masing–masing.
•Adakan pertandingan Olah Raga apa saja yang melibatkan guru dan murid, agar guru dapat menyelami dunia murid melalui kacamata mereka.
•Tukarlah peralatan olah raga. Misalnya bermain sepak bola dengan menggunakan bola kasti atau bola basket. Atau mainkan tenis meja dengan menggunakan sarung tinju.
Semua itu dilakukan dalam rangka menimbulkan gairah belajar dan perspektif yang segar tentang lingkungan belajar.
2. Bercerita
Bercerita adalah sebuah cara untuk menyampaikan informasi / pengetahuan secara lisan. Cerita kadang identik dengan sesuatu yang mengada-ngada, berlebihan, bualan bahkan keluar dari logika. Hal tersebut sangat dibutuhkan karena dalam bercerita anak-anak lebih tertarik dengan hal yang bersifat ilusi dan imajinatif dibandingkan dengan cerita yang realita, meski demikian pendidik harus mengacu pada tujuan pendidikan dan jauh dari kebohongan. Bercerita adalah suatu proses kreatif anak-anak, dalam perkembangannya, dongeng senantiasa mengaktifkan tidak hanya aspek-aspek intelektual, tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, fantasi dan imajinasi, tidak hanya mengutamakan otak kiri, tetapi juga otak kanan.
Sebagaimana tujuan pendidikan adalah mempersiapkan anak untuk siap menghadapi kehidupan mendatang, maka cerita menawarkan kesempatan pada anak untuk mengenal kehidupan lebih luas.
Strategi pendekatan ini digunakan bertujuan memberikan arahan yang menarik, mudah dicerna, serta membekas kepada yang mendengarkannya. Tujuan dari bercerita adalah :
• Melatih Daya Tangkap
• Melatih Daya Konsentrasi an Imajinasi
• Membantu Perkembang
• Membangun Motivasi Menyampaikan Nasehat.
•
Tehnik penyajiannya bisa dilakukan dengan menggunakan alat bantu atau peraga, yaitu menggunakan media lain sebagai pengganti atau untuk mewakili objek cerita. Bisa dilakukan dengan menggunakan : benda tiruan, gambar, boneka dsb.
Tehnik kedua adalah tanpa menggunakan alat bantu atau peraga,yaitu bercerita dengan mengandalkan cara membaca naskah disertai penguasaan tehnik membaca serta ekspresi atau menyampaikan cerita diiringi reka adegan dengan meniru baik gerakan ataupun suara untuk lebih menghidupkan / memvisualisasikan alur cerita. Sekilas Tentang Dongeng kerabat kerajaanpun turut menikmatinya sebagai pelipur lara. asyarakat, bahkan kadang kisahnya dijadikan sebuah mitos. telah menjadi bahan tertawaan karena memang tidak logic
Berabad-abad silam cerita sudah tumbuh menjadi tradisi di Indonesia. Pada jaman kerajaan, para pendongeng mendapatkan gelar kehormatan dari raja. Kehidupan mereka dipenuhi oleh kerajaan karena keberadaannya sangat penting untuk menghibur raja dikala duka bahkan
Hari inipun keberadaan pendongeng mutlak diperlukan dan selalu diterima oleh masyarakat apalagi anak-anak. Mari kita tengok sejenak apa yang terjadi dengan perubahan masyarakat (evolution soceity) dimana keadaannya diawali dengan Masyarakat Tradisional. Pada masa itu cerita, dongeng, mitos begitu kental di tengah masyarakat, lihat saja dengan banyaknya kisah-kisah seperti Malin Kundang, Sangkuriang, Timus mas dan banyak lagi cerita-cerita yang menghiasi kehidupan m
Masuk pada era kedua yaitu Masyarakat Industri. Saat itu masyarakat hampir mengabaikan cerita atau dongeng karena mereka asyik berjibaku dengan beragam industri. Apalagi memasuki era Masyarakat Komputer, cerita atau dongeng semakin sayup terdengar bahkan seperti hilang dari peredarannya karena logika telah merajai masyarakat saat itu, segalanya harus teruji dan terukur, maka mitos seperti ”banyak anak banyak rezeki” bagaikan pakaian usang dan tidak tersentuh, bagaimana mungkin rezeki berlimpah sementara dengan satu anak saja sudah repot. ”Air putih yang disembur dengan mantra” atau ”akan bisulan jika duduk di atas bantal” bagi masyarakat. Walhasil, sesuatu yang terhitung menjadi pedoman dalan kehidupan masyarakat.
Tidak jauh dari masyarakat komputer masuk kepada era selanjutnya yaitu Masyarakat Internet, era ini adalah saatnya cerita bagaikan tanaman yang mulai bersemi dimana sebelumnya mati akibat kemarau. Orang mulai lagi cerita lewati SMS atau E-mail, dongeng-dongeng kembali muncul dipermukaan, mitos bahkan mistik kembali meramaikan kehidupan masyarakat. Tidak heran kalau dedemitpun kini menjadi selebritis di stasiun televisi entah itu ”Dunia lain”, Huka huka” atau ”Reg spasi ramal” kirim ke ........” Luar biasa ! justru di era internet ini, masyarakat kembali ke era awal yaitu era tradisonal. Karenanya ide untuk mengunakan cerita sebagai alat pembelajaran sangatlah tepat.
Manfaat Cerita
Cerita atau dongeng merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial dan aspek konatif (penghayatan) anak-anak. Selain itu cerita mampu membawa anak-anak pada pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dialaminya.
Menggagas Pembuatan Naskah Cerita Modern
Sebuah cerita disebut modern atau mutakhir jika cerita itu interaktif, subjektif, kreatif, dan inspiratif serta mengandung pergeseran dengan cara mengungkapkan pemikiran-pemikiran baru, pendirian-pendirian baru, dengan bentuk yang berbeda dengan sebelumnya.
a. Tehnik Penyusunan Naskah
1. Memilih Materi
2. Menentukan Premis dan Tema
3. Menyusun Situasi dan watak
4. Mengolah Materi
5. Proses Penulisan atau Penyusunan Naskah
b. Struktur Bentuk/Kerangka Situasi Cerita
1. Pemaparan / Eksposisi
2. Penggawatan / Komplikasi
3. Klimaks / Krisis
4. Peleraian / Antiklimaks
5. Penyelesaian / Konklusi
6. Struktur Dramatik Naskah
7. Bentuk / Wujud Dramatik
8. Tokoh atau karakter
9. Dialog
10. Petunjuk
Menjadi Pendongeng yang Mempesona
1. Kesiapan si Pendongeng (Rohani dan jasmani)
2. Materi yang disajikan menarik
3. Penguasaan Materi
4. kemampuan Berekspresi
5. Kemampuan Menirukan Suara
6. Gerak Pantomim
Permainan Peran
Untuk membangun pribadi yang berkarakteristik, percaya diri yang kelak akan membantu perkembangan dirinya diperlukan pelatihan mental. Hal tersebut bisa didapatkan dalam sebuah permainan peran yaitu dengan berpura-pura menjadi seseorang atau sesuatu yang lain. Nilai yang bisa diambil adalah bagaimana keluar dari pola pikir yang sudah mengakar, cenderung melepaskan rintangan dan membiarkan imajinasi membumbung.
Saya pernah mengajar di SMP swasta yang sebagian besar inputnya adalah anak-anak yang tidak membanggakan dalam kematangan intelegensi, demikian juga bukan anak-anak yang masuk dalam kategori ekonomi atas. Faktanya kepercayaan diri mereka sebagian besar tergolong rendah. Padahal saya punya keyakinan bahwa terampilnya anak dalam percaya diri adalah bekal untuk memasuki ketrampilan-ketrampilan berikutnya.
Pada tahun 1995 saya mengadakan training untuk murid-murid ke luar kota dimana kegiatan tersebut di dalamnya ada permainan peran. Sasaran di adakan sesi tersebut adalah menumbuhkan rasa percaya diri murid dan menciptakan karakteristik sekolah. Para murid saya minta untuk berperan sebagai seorang guru bahkan saya berikan kesempatan mereka untuk mempraktekkan peran mereka di Sekolah Dasar yang ada di sekitar tempat training. Hasilnya sangat menakjubkan. Mereka mampu memainkan peran tersebut dengan baik dan tanpa terasa kepercayaan diri telah masuk kedalam diri mereka. Sebagaimana keyakinan saya bahwa percaya diri adalah pintu gerbang dari ketrampilan-ketrampilan lainnya, maka bisa saya saksikan betapa mereka mudah memasuki fase-fase pembelajaran berikutnya dengan mudah, bahkan ketika mereka keluar dari SMP, mereka mampu menempatkan sekolah menjadi sekolah swasta yang mempunyai rangking tinggi dalam pencapaian Nilai Evaluasi Murni.
Sebuah contoh masyur, keberhasilan kreatif dalam bermain peran adalah sebuah kelompok eksekutif yang sedang melakukan pencurahan gagasan di Perusahaan Gillette pada tahun 1980. Sasaran diadakan sesi tersebut adalah mengembangkan produk sampo baru. Para eksekutif diminta untuk berpura-pura menjadi helai rambut. Dengan kondisi pemikiran seperti ini, mereka melakukan curah gagasan mengenai ciri-ciri bagaimana yang diinginkan sehelai rambut. Beberapa helai rambut menginginkan suatu pembersih ampuh, untuk membilas kotoran dari kulit kepala, yang lain menginginkan suatu formula lembut yang tidak akan menjadikan rambut bercabang. Menjelang akhir pelatihan, para eksekutif tersebut menyadari bahwa yang mereka butuhkan adalah sampo yang cocok dengan semua jenis rambut. Produk yang mereka ciptakan, Silkience, terus menjadi salah satu sampo paling populer di pasaran.
Permainan peran bisa dimainkan secara individu atau dalam kelompok. Ada beberapa petunjuk penting permainan peran :
• Peran apa saja jadi, Pilih peran apa saja meskipun tidak sesuai dengan karakternya, dan hindari komentar antar satu dengan lainnya ucapan yang bernada kritik, menghina atau perkataan yang bernada meremehkan, karena hal tersebut biasanya menjadikan orang "merusak karakter", dan menjadi terlalu sadar akan tubuh, suara dan gerakan mereka.
• lakukan Pemanasan, sebagaimana sebelum olah raga membutuhkan pemanasan, maka permainan peran juga membutuhkan pemanasan. Perintahkan seluruh peserta permainan untuk menggerak-gerakan tubuh mereka agar tubuh mereka terasa lentur dan tidak kaku sehingga mereka merasa bebas menggunakan tubuh saat memainkan peran.
• Peran tidak terbatas hanya dalam bentuk manusia, berpura-puralah sebagai apa saja, bisa anda mulai dengan memainkan peran binatang, makanan, tumbuhan, alat-alat dapur, perangkat sekolah, benda-benda hidup ataupun benda-benda mati. Untuk memberikan penjelasan yang benar tentang manfaat menggosok gigi kepada para murid, beberapa guru di sekolah memainkan peran. Ada yang berperan sebagai gigi, pasta gigi, sikat gigi dan kuman. Akhir dari permainan peran tersebut para murid sadar akan pentingnya menggosok gigi.
• Dalam bentuk terarah atau bebas, Dalam bentuk terarah, guru atau ketua kelompok menentukan adegan tertentu yang harus dilakukan oleh para pemain, sedangkan dalam bentuk bebas seluruh pemain boleh melakukan apa saja yang mereka inginkan. Yang terpenting mereka mengetahui rumusan ide, serta tujuan dari permainan peran ini.
Permainan peran mempunyai nilai yang strategis dalam melahirkan begitu banyak ide atau gagasan. Permainan ini mendorong terciptanya kekompakan tim dan kerja sama, juga mendorong para murid untuk bergembira ria.
3. Bernyanyi
"Giliran lagu aja pada hafal, kalau pelajaran, susah masuknya". Demikianlah kalimat klasik yang sering keluar dari orang-orang yang berpandangan negatif terhadap lagu. Mereka pikir lagu telah mengalahkan anak-anak dari belajar. Andaikan mereka melihat sisi baik dari sebuah lagu, mereka akan sadar bahwa lagu sangat membantu mereka dalam belajar.
Sejauh ini bernyanyi adalah strategi yang paling ampuh dalam proses tranformasi ilmu kepada murid. Seperti yang telah saya contohkan kepada anak saya yang kesulitan menghafalkan ciri-ciri makhluk hidup.
Ketika peringatan Milad Universitas Islam "45", saya diundang untuk mengajarkan anak-anak dosen, staf dan Pengurus Yayasan cara menulis Kaligrafi. Pada awalnya anak-anak tidak terlihat minat yang besar untuk mempelajari kaligrafi karena saat itu saya lihat hanya dua anak yang siap mengikuti pelajaran saya. Lalu saya meminta panitia untuk menyiapkan sebuah gitar karena saya ingin bernyanyi. Saya ambil keputusan untuk bernyanyi karena sangat berhubungan dengan kaligrafi. Kaligrafi adalah sebuah karya seni. Sebuah karya seni indah dibuat oleh seorang yang memiliki hati yang indah. Oleh karena itu, dengan menyanyi saya ingin merubah paradigma dari kaligrafi sesuatu hal yang dipandang sakral, menjadi sebuah karya seni indah. Saya mulai dengan lagu grup musik Ungu yang berjudul "Demi Waktu" dengan syair yang telah saya ubah menjadi syair yang menggambarkan bagaimana cara belajar sebuah kaligrafi. Silahkan anda cermati lagu ini :
Kalau saja dari dulu
Ku tlah jumpa pak guru
Tentu aku tlah pandai kaligrafi
Buku gambar dan pensil kini Ada di depanku
Membawa hasratku untuk menulis
Reff ": Ajarkan aku menduakan pensilku
Berat rasa hatiku bila cuma satu
Dan bila satu aku pipihkan pensilku
Empat Lima derajat kupotong ujungnya
Seandainya bila kutak sanggup menulis
Ajarkan aku.
Selesai saya menyanyi, kurang lebih 20 anak sudah siap mengikuti pelajaran kaligrafi saya dengan suasana yang rileks, senang, tanpa beban tidak seperti sebelum saya bernyanyi.
Selain menciptakan suasana riang, sayapun telah menyampaikan beberapa pesan kepada mereka berkaitan dengan pelajaran kaligrafi, yaitu :
1. Siapkan buku gambar
2. Siapkan pensil.
3. Bisa mengunakan dua pensil atau satu pinsil dengan cara dipipihkan, dan ujungnya dipotong miring sekitar 45 derajat.
Di kesempatan lain, ketika Ramadhan 1428 H, saya diminta untuk mengisi materi di beberapa sekolah. Salah satunya adalah SDIT Al Khoirot di Condet jakarta Timur. Saya paham bagaimana keadaan anak-anak ketika puasa, pasti ngantuk, lemas dan capek apalagi semalam mereka habis qiyamul lail. Bisa saya bayangkan sebuah ceramah pasti tidak akan efektif buat mereka. Untuk mensiasatinya maka saya sampaikan melalui sebuah lagu. Saat itu saya menggubah lagu hit dari Drive yang berjudul "Bersama Bintang". Kenapa saya pilih lagu itu ? Karena saya yakin seluruh anak pasti mengenal dan bisa melagukannya. Begini syairnya :
Hari ini kita puasa
Dekatkan diri padanya
Bukan Cuma lapar dahaga
Tapi tuk menjaga jiwa
Perbanyak tadarus Al Quran
Ngomongin orang ditinggalkan
Zakat fitrah dikeluarkan
Sholat malam jangan dilewatkan
Reff : Tidurnya dapat pahala
Apalagi kerjanya
Pahala berlipat ganda
Agar kita taqwa
Baru sekali saya nyanyikan lagu tersebut, untuk kali yang kedua anak-anak sudah bisa mengikutinya. Berarti kalau anak-anak sudah bisa menyanyikanya, sebenarnya saya telah tuntas menyampaikan sebuah materi.
Mungkin anda bertanya, Kenapa mesti menggubah lagu ? kenapa tidak membuat sebuah lagu ? dan kenapa mesti lagu orang dewasa ?
Jawabanya adalah efektifitas. Kita mendapatkan perintah untuk menyampaikan sesuatu kepada manusia sesuai dengan pola pikir mereka. Apa yang saya lakukan adalah berangkat dari konsep ini. Ada beberapa lagu yang telah saya ciptakan dan telah saya coba menyampaikannya kepada anak-anak. Bersyukur di awal lagu telah mendapat tepuk tangan yang meriah dari anak-anak, tapi selanjutnya mereka terdiam karena tidak mudah mengangkat pesan dari sebuah lagu yang baru, apalagi kalau saya mengharapkan anak-anak ikut serta melagukannya, maka itu sulit dilakukan. Bukan lagunya yang tidak bagus, tetapi perlu adaptasi untuk sebuah lagu baru. Maka menggubah lagu sementara ini merupakan cara yang efektif untuk menarik minat siswa.
Meski demikian, Dalam beberapa kesempatan memberikan lagu baru kepada anak-anak juga bisa berhasil. Untuk itu Anda perlu mengetahui bagaimana cara membuat sebuah lagu.
Cara Membuat sebuah lagu
1. Membuat syairnya dahulu kemudian dicarikan nada yang sesuai. Seperti yang pernah dilakukan oleh Komponis terkenal Ebiet G Ade. Ketika beliau melihat bencana yang terjadi akibat meletusnya Gunung galunggung, lalu beliau buatlah sebuah syair yang mengajak kita untuk instropeksi diri, setelah syair selesai dibuat lalu beliau masukan nada-nada yang disesuai dengan syair tersebut. Simak dua bait lagu beliau
Kita mesti telanjang dan benar benar bersih
Suci lahir dan di dalam bathin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang smakin melekat
Oooooo singkikan debu yang smakin melekat.......
Anugrah dan bencana adalah kehendaknya
Kita meski tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah dia diatas segalanya
Oooooo adalah dia di atas segalanya.....
Ini cocok bagi anda yang mempunyai hobi membuat syair, mulailah membuat lagu dengan cara ini, teruslah menulis syair, biarkan banyak kata mengalir deras menjadi kalimat indah dalam kertas atau buku anda. Atau tulis kata-kata yang menggambarkan suasana hati anda, atau masalah yang sedang di hadapi, atau kata-kata yang mengguggah. Apapun yang ada dalam pikiran anda, teruslah menulis. Kalau sudah selesai dengan syair yang anda buat lalu temukan nada yang sesuai, tidak peduli apakah dalam satu minggu atau satu bulan baru anda temukan nada yang sesuai.
2. Membuat nada adahulu, kemudian masukan syair yang sesuai. Jika berminat dengan cara ini, kapanpun dan dimanapun anda berada, biasakan untuk bersenandung. Perlu sedikit modal untuk membeli sebuah alat rekam, bisa sebuah tape recorder, HP, Flashdisk atau alat perekam lainnya, karena anda tidak tahu kapan anda menemukan nada yang menurut anda bagus dan indah. Bisa jadi ketika anda sedang menunggu di halte bis untuk menunggu seseorang atau sekedar menghindari hujan, saat itu keluar dari mulut anda senandung yang indah, maka jangan tunda waktu untuk merekamnya. Untuk membuat nada bisa juga dilakukan dengan menggunakan alat musik, dengan cara menentukan dahulu akordnya lalu carilah nada yang sesuai dengan akord yang dipilih. Apabila sudah yakin dengan nada yang anda temukan, kemudian isi dengan syair yang anda inginkan.
3. Syair dan nada dibuat bersamaan. Cara seperti ini sering dilakukan oleh para pengamen jalanan yang dibuat secara spontan.
4. Humor
Humor sering dikaitkan dengan sesuatu yang lucu, kejadian yang menggelikan dan gelak tawa. Mari kita samakan pandangan bahwa humor juga bisa kita manfaatkan sebagai percik api yang menyalakan semangat belajar, memacu kreatifitas, melahirkan ide seru bahkan memecahkan masalah.
Suasana asyik yang bertujuan untuk pelepaskan ketegangan adalah komponen vital sebuah lingkungan belajar yang efektif. Penyajian humor dan sedikit canda bisa meleburkan kejenuhan yang kerap dialami oleh murid.
Sahabatku, tidak beda dengan keadaan kita, para muridpun akan merasakan payah dan bosan jika suasana belajar selalu dalam kondisi serius. Cobalah untuk mengawali atau mengakhiri pelajaran dengan sesuatu yang lucu, yang melibatkan seluruh murid. Apalagi kalau lelucon tersebut masih berkaitan erat dengan materi yang sedang disampaikan, maka materi yang anda sampaikan akan berkesan, sebuah kesan akan mudah sekali untuk diingat dan akan menyerap banyak ide.
Selamat ! buat tim kreatif salah satu program televisi yang bernama "Republik Mimpi". Sebuah ide cemerlang telah digulirkan dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk mengenal diri, masyarakat dan bangsa melalui lakon yang cukup mengundang tawa. Dari awal sampai akhir sarat dengan pesan-pesan yang mendidik, namun enak untuk dinikmati. Bukan hanya itu, dampak dari kegiatan tersebut, mampu melahirkan ide-ide yang berkembang dari pendengarnya.
Ini dia kiat untuk mampu memadukan humor ke dalam kegiatan belajar :
• Carilah inspirasi dengan menonton program jenaka dari televisi, seperti Extravaganza, Empat Mata atau Lenong Bocah. Bukan hanya untuk hiburan semata tetapi sebagai tambahan ide untuk menghilangkan kejenuhan dalam belajar. Alangkah baik jika anda mengoleksinya melalui media rekaman.
• Buatlah kliping lelucon dari koran, majalah, internet dan catatan apapun yang yang bisa memicu anda untuk berpikir
• dengan cara baru yang menggairahkan.
• Berinteraksilah dengan orang-orang yang berkelut dengan hal-hal yang lucu, perhatikan apa yang bisa anda ambil dari mereka baik berupa ucapan, gerakan, atau syair-syair yang mengundang tawa.
• Kunjungi pergelaran yang mengkhususkan pada humor dan komedi di sekitar anda.
• Mulailah untuk mengoleksi lagu-lagu yang lucu atau menggubah lagu dengan kalimat yang menggugah gelak tawa tapi tetap terkait dengan materi pembelajaran.
• Jangan lupa untuk terus menyelami sisi bathiniyah murid. Agar lelucon yang anda sampaikan efektif.
Pekerjaan masih banyak, Istirahatlah !
Pejamkan mata. Bayangkan anda sebagai guru yang pekerja keras. Pagi-pagi sekali anda sudah siap keluar rumah menuju sekolah dengan segudang perencanaan yang telah disiapkan di malam hari, tiba di sekolah masuk kantor langsung duduk di depan meja membuka isi tas, lagi-lagi melanjutkan persiapan mengajar dengan beberapa perangkat mengajar, sesekali mengoreksi beberapa pekerjaan murid yang belum terselesaikan hingga terdengar bunyi bel tanda mulai mengajar. Layaknya seorang guru, anda berinteraksi dengan para murid dengan beragam aktifitas dan permasalahan di dalamnya. Waktu istirahat sedikit terabaikan karena ada hal yang harus diselesaikan seperti koreksi soal, murid bermasalah, laporan ke atasan atau hadirnya orang tua murid. Dan lanjut mengajar hingga usai waktu. Sepertinya perlu menyita dua, tiga atau empat jam untuk menyelesaikan beberapa tugas hingga berkurangnya waktu di rumah. Sampai di rumah sudah siap aktifitas serupa yaitu membuat perencanaan mengajar buat esok hari. Gambaran di atas mungkin belum seluruhnya mewakili kesibukkan anda lainnya sebagai guru yang pekerja keras seperti mencari buku di perpustakaan atau toko buku, menambah income dengan les atau privat mengajar, atau dalam rangka sertifikasi dengan mengikuti training-training, atau menyelesaikan studi. Hingga nyaris menyita waktu libur.
Jika hal tersebut benar-benar terjadi, percayalah bahwa ruang anda untuk berkembang sangatlah kecil bahkan anda akan menemukan kejemuan. Ketahuilah seorang yang pekerja keras membutuhkan istirahat yang keras juga. Karena dengan istirahat keras anda akan menemukan kekuatan yang justru akan memudahkan untuk menyelesaikan pekerjaan anda selanjutnya. Apakah istirahat keras itu ?
Sahabatku, istirahat keras adalah totalitas untuk keluar dari kegiatan rutinitas yang salah satu manfaatnya adalah mendapatkan sudut pandang baru. Tidaklah terlalu berarti jika anda beristirahat sementara hati anda masih memikirkan pekerjaan anda. Adalah bijaksana jika anda matikan sementara handphone yang berhubungan dengan pekerjaan anda atau matikan sama sekali. Bila perlu anda lakukan sebuah perjalanan untuk membuka cakrawala baru yang tidak pernah anda duga sebelumnya.
Tetapi, Jika anda mencari pencerahan dengan cakrawala baru, perlu diperhatikan bahwa nilai sebuah perjalanan tidaklah terletak pada kuantitas melainkan pada kualitas. Sayangnya banyak orang lebih tertarik dengan perjalanan wisata yang menjanjikan banyak tempat yang melelahkan dan membingungkan karena membebani dengan begitu banyak sensasi baru. Cobalah datangi hamparan sawah selama satu, dua jam atau seharian agar anda dapat memahami hati dan jiwa tempat yang dikunjungi dan meresapi lebih banyak keindahannya, atau lewatkan hari anda dengan mengunjugi sebuah galeri atau menyaksikan pergelaran seni. Hal tersebut lebih bermanfaat dibandingkan sehari penuh tergesa-gesa menjelajahi banyak tempat, wal hasil kelelahan yang ada, sehingga hari esok bukan semangat yang timbul tetapi kemalasan. Jika kualitas perjalanan seperti yang telah saya contohkan di atas dapat dilakukan maka akan menimbulkan gairah baru atau sebuah perubahan sehinnga pekerjaan anda kedepan dapat diselesaikan dengan cara yang sederhana dan lebih kreatif, Istirahatlah !
Seandainya mampu, kebanyakan dari guru menginginkan menjadi sosok yang bernilai bagi anak didiknya, mereka mungkin bermimpi menjadi idola bagi murid-muridnya atau berkhayal untuk menjadi seorang selebritis di komunitasnya, atau berharap menjadi guru yang menyenangkan yang mampu memberikan keriangan dan kegembiraan kepada murid-muridnya dari hari ke hari lewat upaya kreatif. Bersyukurlah, upaya mewujudkan mimpi itu benar-benar dapat dilakukan. Apapun latar belakang pendidikan atau pengalaman yang guru miliki, mereka mampu meraih lebih dari apa yang mereka bayangkan dan impikan. Dengan sekelumit pengalaman yang bersatu dengan gagasan dan strategi yang telah dikembangkan dan diuji di lapangan untuk keluar dari suasana kebekuan dalam mengajar, saya hadirkan sebuah catatan yang mudah-mudahan memberikan inspirasi bagi guru untuk menciptakan suasana yang melambungkan keceriaan serta menjadikan belajar yang semakin asyik. Siswa tidak lagi merasa belajar di saat belajar namun tujuan pendidikan yang diharapkan dapat diserap dengan benar dan mudah.Melalui kesempatan ini, saya mengajak anda untuk melihat bahwa guru yang mempunyai peran strategis untuk memastikan proses pembelajaran murid sesuai dengan pola pikirnya seringkali "gagal", karena penyajian materi di lembaga pendidikan pada umumnya berbentuk klasikal, sehingga sulit menerapkan metode yang beragam di dalam kelas. Sementara, kemampuan satu siswa dengan lainnya berbeda.Tidak perlu heran, kalau akhirnya seleksi masuk bagi siswa merupakan tuntutan. Ironisnya hal tersebut malah menjadi trend dan bergengsi, walau dengan dalih “keterbatasan bangku” atau "Sekolah Pavorit". Sayang sekali, mestinya lembaga pendidikan bisa lebih kreatif dengan mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan keadaan murid, bukan malah memaksakan murid untuk bisa menyesuaikan diri dengan kurikulum. Dulu, ketika calon guru kuliah, tentunya ia mendapatkan mata kuliah penting yaitu ”Pengembangan Kurikulum”. Harapannya adalah bahwa seorang guru harus mampu membuat sebuah kurikulum berdasarkan ciri-cirinya, tapi sayang, mata kuliah tersebut sepertinya kurang dimanfaatkan dengan baik Karena sekolah atau guru sepertinya sudah cukup dengan kurikulum yang berlaku. Untunglah, situasi seperti ini justru melejitkan kreatifitas saya untuk mengembalikan lagi sosok guru pada masa keemasannya dimana ia begitu dekat dengan muridnya, anggun, indah, dinamis, kreatif serta mampu menyelami pola pikir murid. Dengan demikian ia benar-benar menjadi bagian dari kehidupan muridnya.
Jalannya adalah, dengan sesuatu yang sangat sederhana, yaitu dengan menciptakan suasana belajar yang asyik, gembira serta menyenangkan. Dengan demikian upaya memberikan materi sesuai dengan pola pikir murid tidak lagi menjadi harga mati, bahkan anda bisa melakukannya dengan kerangka balik yaitu dengan persepsi bahwa anak mempunyai perspektif yang sama dalam hal “kesenangan” maka anda perlu memberikan kepada mereka upaya-upaya kreatif sebagai upaya untuk menimbulkan efek senang. Harapannya adalah, dengan suasana belajar yang menyenangkan mampu mengangkat kemampuan berpikir mereka. Pada gilirannya sesulit apapun materi yang diberikan akan lebih mudah diterima oleh murid.Setiap kali mendengar pendidikan yang modern, yang terbayang di benak banyak orang adalah fasilitas yang luar biasa. Sehingga bagi banyak orang tua, untuk mengambil keputusan tempat mana yang baik untuk menyekolahkan anak-anak mereka, lihat dulu sekolah mana yang memiliki fasilitas memadai. Saya setuju kalau fasilitas yang memadai itu penting untuk menunjang kegiatan belajar. Namun pengertian fasilitas, jangan selamanya terbatas pada hal-hal yang bersifat materiil. Harus dipahami bahwa sosok seorang gurupun merupakan fasilitas yang perlu mendapatkan perhatian. Bagi sekolah yang hanya berorientasi pada bisnis, yang berusaha keras agar menarik minat banyak murid, fokus mereka hanya memperindah fasilitas materiil dan melupakan bahwa fasilitas yang ada pada guru harus dikembangkan. Mereka berpikir bahwa fasilitas yang memadai cukup untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Sahabatku, pola pikir yang demikian adalah tidak benar. Perlu diketahui bahwa fasilitas yang bersifat materiil relatif statis bahkan akan mengalami penyusutan. Bisa anda bayangkan bagaimana sekolah yang selalu mengandalkan audio visual lengkap, bagaimana kalau tiba-tiba listrik padam, apa yang dapat guru lakukan, masih bisakah pelajaran berlangsung dengan menarik ?. Atau anggap semuanya berjalan lancar,tetapi murid sesekali mengalami kejenuhan, lalu apa yang bisa guru lakukan ?. lalu bagaimana kalau terpaksa harus belajar di tempat yang tidak memadai, masih bisakah pelajaran berlangsung dengan menarik ?. Jawabannya adalah "Mission Imposibble". Itu sulit dilakukan jika orientasi sekolah hanya fasilitas yang bersifat materiil. Kerja keras dunia pendidikan adalah, mengarahkan para guru untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan apa yang ada pada diri mereka, "Your Body is Your facility". Anda pasti mengenal baik dengan sosok Dik Doang seorang selebriti yang kerap muncul di layar televisi sebagai duta pendidikan. Satu hal yang menarik perhatian bagi saya dan penting untuk saya munculkan adalah kepiawaiannya dalam membagi kenikmatan ilmu. Ia telah sukses menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan mengandalkan fasilitas yang ada pada dirinya. Senyumnya yang khas, olah tubuhnya yang memikat, kalimat indah yang selalu mengalir deras dari mulutnya, belum lagi kalau dia bernyanyi, memberikan kegairahan yang luar biasa. Padahal, tempat dimana terjadinya proses belajar hanya di pinggir rel kereta api. Bayangkan, tentu panas, bising, dan yang pasti suasana tidak kondusif. Tapi nyatanya, belajar berjalan dengan baik. Lalu bagaimana dengan suara kereta api yang lewat ? Sahabatku, kesenangan melahirkan kreatifitas, kreatifitas membuka jalan keluar pada setiap permasalahan, dengan tenang Dik Doang mengatakan ketika kereta lewat "anak-anak pelajaran kita tunda dahulu karena ada yang mau lewat.".
Sahabatku, Belajar tidak selalu berurusan dengan hal-hal yang bersifat serius, Sesungguhnya, kemampuan bermain merupakan unsur penting dalam banyak hal terlebih kreatifitas, bermain mencakup semua bentuk senang-senang, termasuk mainan, olah raga, bercanda, serta aktifitas lain yang mungkin tampak remeh namun memberikan dampak yang begitu besar. Apapun bentuknya di dalam bermain kita menanggalkan sikap serius yang berlebih, namun di balik itu kita menemukan beragam sisi baik termasuk perubahan. Bukankah belajar merupakan sebuah proses perubahan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Maka, jika seorang anak pada awalnya tidak mampu melompat, lalu dengan bermain timbul kemampuan itu, maka tidak disangkal lagi bahwa bermain merupakan bagian dari belajar. Fun memiliki arti : menyenangkan, sedangkan Teaching berarti Pengajaran, maka "Fun Teaching" berartii bagaimana menciptakan suasana belajar yang gembira. Bukan berarti menciptakan suasana glamor dan hura-hura. Kegembiraan di sini artinya membangkitkan minat (gairah untuk belajar), merangsang keterlibatan penuh serta menciptakan pemahaman atas materi yang dipelajari. Penyajian metode belajar yang bervariatif perlu diberikan kepada murid agar tidak terjadi kejenuhan dalam belajar. Suasana belajar harus diciptakan sedemikian rupa agar murid tidak merasa terbebani dengan beragam materi., Perasaan senang dapat hadir seiring dengan tujuan pendidikan yang dapat diserap dengan baik dan mudah. Hal tersebut dapat terjadi karena seseorang yang berada dalam kondisi yang menyenangkan tahan dan sigap dalam menghadapi beragam bentuk tantangan. Sebaliknya, seseorang yang sulit mengendalikan emosi akan mengalami Emotional Hijacking (pembajakan emosi), berarti orang tersebut akan terlanda kegugupan (nervous) dan gampang keliru dalam mengambil keputusan atau menggunakan IQ-nya.
Pendekatan Bermain, Bercerita dan Bernyanyi dalam belajar tentunya tidak asing bagi dunia pendidikan. Dalam beberapa kesempatan pendekatan tersebut kerap digunakan, namun penggunaanya masih terbatas dan bersifat insidentil. Fun Teaching mencoba untuk mencari ruang agar bisa masuk pada setiap bentuk pembelajaran.
Sahabatku, sejenak kita lihat apa yang sering kita jumpai di lingkungan kita dimana banyak para orang tua, ketika mendapati anaknya pulang dari sekolah, kalimat yang terlontar adalah “ Belajar apa tadi di sekolah nak ?”. Saya yakin ucapan yang keluar tadi merupakan ekspresi rasa peduli orang tua kepada anak, namun hal tersebut kadangkala bukan menimbulkan efek yang baik bagi anak, bahkan sebaliknya.
Bisa jadi seorang anak begitu banyak beban di sekolah akibat gurunya yang hobi marah misalnya, atau ia bertengkar dengan teman sekelasnya atau lingkungan kelasnya yang setiap hari menambah kejenuhan atau banyak lagi ketidaksukaan lainnya, sehingga begitu bel sekolah dibunyikan tanda pulang, spontan anak itu berteriak keras “horee…. Aku bebaaaaaas”. Sebuah ekspresi gembira karena telah terlepas dari banyak beban yang ia terima hari ini, dan ia ingin segera melupakannya. Tetapi, ketika ia sampai dirumah dan disambut dengan pertanyaan orang tuanya, malah membuat ia kesal, karena mengingatkan kembali pada peristiwa-peristiwa menjemukan yang ingin ia lupakan. Apalagi jika dilanjutkan dengan serentetan tugas yan harus mereka kerjakan maka menambah sempurnalah kekesalan mereka Mengapa orang tua tidak memulai dengan pertanyaan “bagaimana anakku hari ini, apakah kamu senang ?”. Tentunya pertanyaan tersebut bukan hanya sekedar pertanyaan, tetapii kesungguhan untuk membuat rasa senang kepada anak.
Pastikan anak senang dalam belajar. Upaya yang tergesa-gesa agar anak mampu mengusai sesuatu seringkali membunuh motivasi anak untuk belajar, semakin keras kita memaksa anak untuk dapat mengetahui atau bisa melakukan sesuatu, semakin keras pula ia susun kekuatan untuk menolaknya.
Sekali lagi, pastikan anak senang dengan sesuatu, jika anak sudah senang dengan sesuatu maka ia akan bersemangat untuk meraihnya, jangankan dengan fasilitas yang memadai, dengan tidak diberikan fasilitaspun ia akan berupaya mencarinya.
Saya berikan contoh seorang anak SD yang senang sekali dengan menggambar atau musik, bukan hanya menuntut orang tua untuk membelikan peralatan menggambar dan musik, diapun rela untuk tidak jajan dan selalu mengumpulkan uang demi memiliki alat menggambar dan musik tersebut.
Ketika saya SMP, saya suka sekali dengan pelajaran sejarah. Tanpa disuruh guru ataupun orang tua saya terus membaca dan menghafalnya, sampai saya berpikir , saya harus mempunyai sebuah tape recorder. Hal tersebut terus memompa motivasi saya untuk memilikinya meskipun pinjam ke sana ke mari, akhirnya saya dapat menggunakannya demi memenuhi kebutuhan fasilitas belajar. Sebenarnya untuk apa tape recorder itu ? alat itu saya gunakan untuk merekam bacaan sejarah saya, hingga saya tidak perlu lagi mengulangi bacaan saya untuk menghafalkannya, saya cukup memutar kembali apa yang sudah saya rekam dan mendengarkan sambil tidur dan kadang sambil memakan sesuatu. Bisa dibayangkan saat itu saya tidak terlihat sedang belajar tetapi sedang bersenang-senang.
Kata kuncinya adalah, seorang yang senang dalam bekerja maka ia tidak sedang bekerja, dan seorang yang senang dalam belajar sesungguhnya ia tidak sedang belajar.
Ada yang beranggapan bahwa, bermain menjad penghambat dalam belajar, seolah kebijakan yang berlaku adalah, seorang anak dikatakan tidak rajin dan malas jika ia sering bermain dan tidak belajar giat. Padahal seperti yang telah saya ungkapkan bahwa belajar merupakan bagian dari proses belajar.
Bermain mempermudah kita memasuki kondisi pikiran yang mengandung unsur-unsur kreatifitas, sifat ingin tahu, daya khayal, coba-coba, fantasi, spekulasi serta wawasan baru.
Bersenanglah !
Mulailah mengawali hari anda dengan mengucapkan “Bersenanglah” kalau perlu tulis dengan huruf besar dan tempelkan di tempat yang sering anda lihat, maka kalimat tersebut akan segera mengambil alih kehidupan anda.
“Fun everyone fun, All of your troubles will vanish like bubbles”. Kalimat ini mengalirkan keyakinan yang kuat bagi saya bahwa ketegangan, panik, dan terlalu serius sedikitpun tidak membantu menyelesaikan sebuah masalah, bahkan akan menjadikan masalah tersebut semakin rumit saja, sebaliknya kesenangan yang di dalamnya memiliki unsur ketenangan sangat membantu melepaskan seberat apapun kesulitan.
Pada tahun 2000, datang tawaran kepada saya untuk bekerja di salah satu perusahaan jasa di Jakarta sebagai interpreter Bahasa Arab. Setelah diputuskan bahwa dua hari lagi akan dilakukan tes masuk, awalnya saya begitu tegang, maklum baru pertama kali dalam hidup saya mengalami tes masuk kerja, apalagi sejak lima tahun lalu saya sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Bahasa Arab. Khawatir ”GAGAL” menjadi penyebab utama ketegangan saya. Sambil mempersiapkan segala sesuatu, ketegangan saya semakin bertambah, seiring ketegangan yang bertambah kekhawatiranpun semakin menjadi, sepertinya bekal yang saya miliki belum apa-apa untuk menghadapi tes yang tampak seperti ”MONSTER”. Semakin besar ketegangan semakin besar pula kebingungan saya. Apa yang harus saya lakukan ? mana yang harus saya dahulukan untuk di baca ?. Semua bahan bacaan, materi, literatur, dan buku-buku yang ada terlihat ”PENTING” semua dibuka namun tak satupun terbaca, sampai akhirnya saya putuskan untuk "Tenang!, tenang! dan saya harus tenang”.
Sesaat setelah saya putuskan untuk tenang dan sedikit relaksasi disertai dengan tarikan nafas yang begitu dalam, maka irama jantung dan aliran darah mulai terdengar indah, dengan ritmenya yang begitu harmonis membantu saya memandang setiap langkah menjadi mudah. Tak ayal ketenangan menggiring saya untuk mulai membuka dan membaca satu-persatu buku yang berkaitan dengan materi tes sampai pada kesimpulan ”Saya Harus Siap”. Bukan kesombongan tetapi sebuah upaya untuk memompa semangat menghadapi tantangan. Saat itu saya berpikir untuk apa saya khawatir. Toh yang akan mengetes saya manusia juga seperti saya, kalau saya berhasil, Alhamdulillah memang itu harapan saya. Dan jika gagal, apa yang saya risaukan, pengetespun tidak kenal saya, enjoy sajalah, sebentar peristiwa itu juga berlalu, saya dan dia akan melupakan apa yang terjadi, mengapa mesti takut ? kalaulah hal tersebut terjadi pada saat ini pasti saya katakana : “ Takut ? Apa kata dunia” Dengan mantap saya jalani beberapa tes, sampai pada satu pertanyaan ; ”Apakah anda mampu menulis Bahasa Arab dengan Komputer ?”, dengan penuh optimis saya menjawab ”hari ini saya tidak bisa pak, tapi dua hari lagi saya bisa ”. Sebentar pengetes terdiam, lalu berkata : ” Ya sudah, kapan anda mau mulai bekerja ?”. Luar biasa, dari cerita tadi saya ingin simpulkan bahwa rasa senang membantu meringankan rasa khawatir yang berlebih atau mengurangi ketegangan, dengan energi senyum mampu melahirkan ide yang menakjubkan serta menyuntikkan gairah baru yang terpancar dalam semangat optimisme. Sebaliknya, rasa takut dan khawatir yang berlebih bisa menjadi perusak kehidupan kreatif, mengurangi kemampuan berinteraksi dan mencegah dari datangnya masukan yang berharga. Salah satu kiat mengatasi hal tersebut seperti yang dicontohkan di atas, ingatlah bahwa orang lain hanyalah manusia biasa. Mereka tidak berkuasa atas diri anda. Resiko yang ditimbulkan dari berinteraksi relatif kecil. Hal yang terburuk yang bisa orang lain lakukan adalah menyatakan bahwa ia tidak tertarik pada anda. Dan itu bukan alasan bagi anda untuk bersedih, ketahuilah, bahwa banyak orang besar atau ide cemerlang awalnya tertolak. Oleh karena itu bersenanglah !.
Kenapa Harus Fun Teaching ?
Untuk mengetahui apakah anda berhasil mendidik seorang murid, anda bisa melihat apakah pendidikan yang anda berikan telah memenuhi 3 faktor penting.
Yang pertama, adalah Pertumbuhan (improvement). Indikasinya adalah perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Pendidikan dikatakan berhasil, apabila guru tahu cara membantu muridnya agar menjadi orang dewasa yang mencintai dan memanfaatkan kehidupan secara maksimal dan mengerti cara memecahkan masalah ataupun mengilhami orang lain untuk meningkatkan peran dalam kehidupannya. Sahabatku, Kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dengan usia, adakalanya seorang yang sebenarnya sudah dewasa tetapi perilakunya kekanak-kanakan, sementara tidak sedikit orang yang usianya masih muda tetapi mampu bersikap dewasa.
Sayangnya kedewasan banyak ditafsirkan salah oleh banyak orang. jika melihat orang-orang yang dalam kehidupannya tampak diam dan serius spontan dikatakan dewasa, sedangkan jika melihat orang yang dalam kehidupannya selalu bermain, gembira dan bercanda, spontan dikatakan tidak dewasa. Jika anda terlanjur berkesimpulan demikian, maka rubahlah ! Karena yang menjadi ukuran kedewasaan adalah kematangan. kematangan secara psikoligis, dan kematangan yang paling penting adalah kematangan spiritual. Kedewasaan biasanya bisa dilihat bagaimana seseorang mengambil sebuah keputusan. Suatu ketika Khalifah ke dua, Umar ibn Khothob ra. Menuju Mekkah. Tiba-tiba seorang pengembala turun dari gunung menghampiri rombongan Umar ra. Umar ra. berkata kepadanya untuk mengujinya, "Hai pengembala, juallah satu ekor kambing di antara kambing-kambing itu kepada kami". Pengembala itu berkata : "Saya adalah seorang budak". Umar ra. berkata kepadanya : "Katakanlah kepada tuanmu bahwa kambing itu dimakan srigala ". Pengembala itu bertanya "Dimana Allah" Maka menangislah Umar ra. Lalu berangkat bersama budak itu. Kemudian ia dibeli dari tuannya dan dibebaskannya. Umar ra, berkata kepada budak pengembala itu, "Kalimat ini telah memerdekakanmu di dunia ini dan aku mengharapkan semoga kalimat inipun memerdekakanmu di akherat".
Suatu saat seorang santri ditawarkan oleh teman-temannya untuk melakukan perbuatan maksiat “ ayolah minum, ayolah kita bermabuk ria janganlah sok alim, jangan kampungan.” Demikian perkataan mereka merayu santri untuk bersama-sama melakukan maksiat, lalu sang alim berkata “anda tahu, orang mabuk sebelum datangnya Islam sudah banyak, anda tahu orang berbuat maksiat sebelum trunnya Al Quran sudah banyak, jika hari gini masih ada orang yang minum-minuman serta banyak berbuat maksiat maka orang tersebut adalah kuno dan sangat kampungan, karena bukanlah sesuatu yang modern yaitu mengulangi perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu.
Dua contoh cerita tadi kiranya menggambarkan kematangan seorang anak akan kecerdasan spiritual. Dengan demikian pendidikan yang telah diterima oleh pengembala dan santri adalah sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
Faktor yang kedua adalah Pengembangan (development). Saya pernah mendengar seorang mantan ketua organisasi sebut saja OSIS berkata, "Waktu saya jadi ketua OSIS seluruh kegiatan berjalan dengan baik, lihat piala-piala serta penghargaan yang telah saya dapat". Selanjutnya ia mencela "mana pengurus OSIS sekarang, payah tak satupun piala bisa didapatkan.".
Adalagi seorang mantan ketua RT berkata, "Wah bagusan waktu saya jadi ketua RT, lingkungan bersih, aman dan administrasi teratur rapi, kalau ketua Rt sekarang mah nggak becus, kemaren aja ada yang kemalingan". Giliran mantan Kepala Sekolah berkata, "Emang enak jadi kepala sekolah, murid pada bandel guru-guru demo terus nuntut naik gaji, waktu saya jadi kepala sekolah aman dan terkendali, enggak ada tuh yang kayak gituan". Para mantan ketua tadi sepertinya memiliki kebanggaan yang tiada tara, karena menganggap bahwa orang lain atau generasi dibawahnya, tidak lebih baik dari mereka. Tentu saja perkataan mereka malah menjadi bukti bahwa mereka telah gagal dalam bekerja, mereka telah melupakan regenerasi atau proses duplikasi. Seorang dikatakan pemimpin jika ia telah mampu menciptakan pemimpin baru, atau generasi yhang baik adalah generasi yang mampu mewariskan kebaikan pada generasi berikutnya.
Jadi pengembangan yang dimaksud adalah bagaimana seorang dapat sukses dalam pendidikan dan mampu melakukan sebuah aktifitas kemudian iapun mampu menjadikan orang lain menjadi sukses. Ibarat berkembangnya sebuah pohon , setelah berbuah, dia tidak hanya berbuah untuk satu pohon tetapi ia bisa menimbulkan pohon-pohon yang lain.
Faktor ketiga adalah Pemberdayaan (empowerment) Ketika awal diluncurkan KBK (Kurikulum berbasis Kompetensi) bagi saya merupakan angin segar. Ada kerinduan yang mendalam akan terciptanya generasi yang siap mengisi sejarah di masa depan. Namun ketika memasuki tahapan aplikasi dengan grand design standar kelulusan yang mementingkan 3 bidang studi yaitu Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, justru dengan telak telah membunuh semangat KBK. Begitu banyak potensi yang ada di dalam kehidupan ini yang seluruhnya layak mandapatkan perhatian yang sama, diabaikan dengan sistim kelulusan tadi.
Beberapa anak saya tanya : “bidang studi apakah yang menurut kalian paling mudah ?” maka ada yang menjawab ” Kesenian pak!, Ketrampilan pak!, olah raga pak! dan sebagainya. Kemudian saya lanjutkan dengan pertanyaan kedua : “kamu yang menganggap bidang studi kesenian mudah, Apakah kamu pernah mendapat nilai sembilan pada kesenian ? lau jawabnya “tidak”. Demikian selanjutnya saya tanyakan kepada lainnya yang menganggap ketrampilan mudah atau olah raga atau lainnya, dan sebagian besar mereka belum pernah mendapatkan nilai 9 pada bidang studi yan mereka anggap mudah.
Maka nasehat saya kepada mereka prioritaskanlah pelajaran yang kamu anggap mudah daripada pelajaran yang kamu angap susah. Karena biasanya kamu cenderung konsentrai dengan pelajaran yang sulit lalu mengabaikan pelajaran yang mudah. Padahal, pelajaran yang mudah adalah kekuatan masing-masing individu karena setiap orang mempunyai keunikan. Jika ketrampilan adalah mudah maka pastikan kamu mendapatkan nilai sembilan, Kalau perlu tambah dengan les ketrampilan pada guru atau orang yang dianggap mahir demi nilai ketrampilan yang sempurna. Itu mudah karena ketrampilan adalah kekuatanmu (bakat) dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menguasainya. Sementara sisa waktu, bisa digunakan untuk mulai melirik pada pelajaran yang terasa susah.
Umumnya sebagian anak mengambil les pada bidang studi yang diangap susah dan mengabaikan bidang studi yang mudah, akhirnya bidang studi yang sulit meski kerja segenap upaya tidak begitu banyak hasil karena memang bukan kekuatannya. Sementara bidang studi yang mudah cenderung diabaikan sehingga tidak ada bidang studi yang menjadi kekuannya.
Bukankah salah satu tujuan pendidikan adalah mempersiapkan anak untuk siap menghadapi kehidupan mendapang ? bekal apa yang ia miliki untuk mengatasi kehidupannya kelak ? Kalau ada anak yang hanya mahir dalam kesenian, berikanlah fasilits untuk menunjangnya, bukankah telah banyak orang yang sukses dengan kesenian ?. Kalau ada anak yang hanya bisa berolah raga, biarkan mereka mengembangkan dirinya dengan olah raga, bukankah sudah banyak contoh orang yang mampu melewati kehidupannya dengan baik melalui olah raga ? demikian juga dengan kekutan-keutan lainnya.
Berkaitan dengan pemberdayaan, maka yang menjadi fokus kita adalah "keunikan" dimana anak memiliki kecakapan yang beragam.
Semua orang mempunyai potensi untuk berhasil dengan keunikan masing-masing. Saya sangat prihatin, ketika seorang anak mendapatkan nilai 5 dalam ulangan matematika, maka kesan guru atau orang tua terhadap anak tersebut adalah Bodoh dan Tidak Pintar, bahkan Negarapun mengklaim dia sebagai orang yang Gagal dan melupakan potensi lain yang di miliki anak tersebut.
Dunia pendidikan seharusnya tidak mengenal istilah "orang ini bodoh" dan "orang ini pintar", karena semua orang pintar dengan keunikannya masing-masing. Pada pembahasan tentang aspek menarik yang bisa dihasilkan oleh Fun Teaching akan diberikan contoh mengenai hal tersebut.
Setelah dijelaskan mengenai tiga faktor penting mencapai keberhasilan dalam proses belajar, Anda perlu jawaban bagaimana agar proses tersebut dapat berjalan dengan efektif ? Jawabannya adalah "FUN". Belajar akan efektif kalau fun, menyenangkan. Jika anda seorang guru, cobalah masuk ke dalam kelas kemudian katakan kepada murid-murid anda : "Anak-anak kemarin sore saya berjalan-jalan ke super market, ketika saya melihat sebuah coklat saya teringat dengan wajah-wajah kalian, ingin saya membeli semua coklat untuk kalian, tetapi uang saya tidak cukup, akhirnya saya hanya bisa membeli satu buah coklat dan coklat ini hanya akan saya berikan orang yang yang pantas menerimanya. Jadi, hari ini kita tidak belajar, sebagai gantinya saya akan mengadakan sebuah kuis, siapa yang bisa menjawab kuis dengan baik berarti coklat berhak menjadi milik anda.".
Para murid pasti gembira, karena ada suasana yang berbeda dan sungguh menyenangkan. Tapi coba katakan kepada murid-murid anda :" anak-anak masukan buku bacaan kalian, siapkan buku tulis dan pensil, hari ini.... kita ulangan" Serempak murid anda akan mengatakan " Yaa......", tentunya dengan suasana hati yang kecewa. Dua pernyataan anda tadi sebenarnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin mengadakan evaluasi belajar kepada murid anda. Penggunaan bahasa atau metodologi transformasi sangat berpengaruh pada reaksi murid. Jika dikemas dengan suasana fun, akan mendapatkan reaksi yang positif dari murid anda. Sebaliknya, jika ketegangan yang dimunculkan, maka jangan salahkan murid jika mereka kehilangan antusias dalam belajar
Anda bisa bayangkan, kalau suasana belajar selalu fun, maka motivasi belajar murid akan muncul dan terus bertambah. Dengan demikian efektifitas belajar akan berjalan dengan baik. Dalam kaidah fiqhiyah dituliskan : "Sesuatu, bila denganya menjadi sempurna sebuah kewajiban, maka sesuatu itu adalah wajib. Satu misal, jika seorang wajib datang ke tempat bekerja tepat waktu, sementara untuk bisa datang tepat waktu harus menggunakan kendaraan, maka berkendaraan adalah wajib. Sama halnya dengan Fun Teaching, jika belajar merupakan kewajiban, sementara suasana belajar yang menyenangkan diperlukan untuk memotivasi siswa dalam belajar dan memudahkannya untuk menyerap beragam ilmu, maka Fun Teaching menjadi sesuatu yang wajib dan tidak bisa dilepaskan dalam kegiatan belajar mengajar. Sebuah survey menunjukkan betapa mutu pendidikan di Indonesia nyaris terbawah
Aspek menarik yang bisa dihasilkan oleh Fun Teaching
Aspek menarik yang pertama adalah memberi hak pada hati. Baik sekali apabila anda memahami betul kebutuhan hati, hati mempunyai peran sangat penting dalam mewarnai aktifitas hidup, suasana hati yang sedih seringkali menghalangi bentuk-bentuk kreatifitas, menyedot banyak energi dan antusias seseorang. Misalnya seorang pekerja yang suasana hatinya begitu kacau, bisa dipastikan ia merasakan begitu berat setiap tugas yang diterima walaupun sekedar rutinitas kecil dari pekerjaannya. Dalam dunia pendidikan betapa banyak kita saksikan siswa yang tidak konsentrasi dalam belajar bahkan berani mengambil keputusan untuk membolos akibat perasaan hatinya yang tidak bahagia.
Banyak seniman yang saya jumpai amat terpengaruh dengan suasana hati, jangankan menghasilkan karya yang spektakuler, untuk sebuah kreatifitas yang sederhanapun sulit mereka munculkan.
Sebaliknya, suasana hati yang penuh suka cita mampu menjadikan pikiran dan kreatifitas mengalir deras, merangsang kuat pada perasaan, ide serta wawasan.
Pikirkan tentang anda, apabila diri anda telah mampu mengeksplorasi diri anda sehingga daya tangkap pancaindra murid meliputi penglihatan, pendengaran dan rasa dapat dikoordinasikan dengan baik, akan menyelaraskan suasana belajar dengan suasana hati.
Aspek menarik selanjutnya adalah Memacu Keverdasan. Fun Teaching merupakan cara jitu untuk memacu dan mengembangkan kecerdasan. Belajar yang dikemas dengan gerak dan lagu kadang diiringi musik akan mempertajam kecerdasan kinestetik–tubuh. Membiasakan dalam bersyair dan menekuni puisi akan meningkatkan kecerdasan verbal-linguistik. Menonton film yang menampilkan keadaan sosial masyarakat memacu kecerdasan emosional. Wisata ke alam terbuka menyaksikan proses kejadian alam melahirkan kecerdasan spiritual. Sementara itu, mengerjakan teka-teki yang sulit dapat memupuk kecerdasan matematik-logis.
Masih banyak lagi kecerdasan yang disumbangankan oleh suasana belajar yang menyenangkan termasuk hal yang seringkali dianggap negatif oleh para pendidik, yaitu maraknya Play Station.
Ini hanya masalah sudut pandang. Sebuah objek sperti playstation jika dilihat dari sudut pandang salah, maka objek itu akan menjadi jelek, namun jika playstation dilihat dari sudut pandang yang benar maka kegiatan tersebut menjadi baik. Sisi baik yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah sebagai daya dorong dan pendongkrak imajinasi.
Ada sebuah kisah menarik berkaitan dengan cara memandang, seperti yang saya kutip dari buku Life Excellence karya Reza M Syarif : Di sebuah kerajaan tinggalah seorang raja. Karena sebuah kecelakaan, kuping sang raja putus satu. Kemudian dia mengundang tiga orang pelukis untuk melukis. Pelukis yang pertama membuat lukisan raja itu apa adanya. Kemudian diserahkan lukisan itu kepada raja, dengan harapan akan menjadi pemenang. Tetapi dia tidak menang. Kenapa ? Karena dia melukis apa adanya sehingga raja tidak berkenan melihat lukisan dirinya yang hanya bertelinga satu. Kemudian masuk pelukis kedua. Dia melukis wajah raja dengan dua telinga, padahal telinga raja satu sudah putus. Dia berharap jadi pemenang karena sudah memperindah kondisi sang raja dalam lukisannya. Tetapi, ternyata dia kalah. Kenapa ? Karena raja tidak suka dengan orang yang suka cari muka, yakni memperindah lukisan dari objek yang sebenarnya. Muncullah pelukis yang ketiga. Dia seorang yang pintar. Dia tidak melihat wajah sang raja dari arah depan (seperti dua pelukis sebelumnya), dia lihat dari arah samping. Dia lukis sang raja saat terlihat kuping yang masih sempurna sehingga kuping yang satu tidak terlihat. Maka dialah yang jadi pemenang. Kembali kepada Fun Teaching sebagai pemicu kecerdasan, kita sama tahu bahwa tidak ada gerak tubuh manusia yang tidak diperintah oleh otak. Metode belajar yang mengerahkan segala potensi tubuh mulai dari gerak kasar sampai halus bahkan olah rasa, akan memacu daya kerja otak. Seorang anak yang enerjik merupakan kredit poin untuk menjadi seorang yang cerdas di masa dewasanya. Semakin banyak anak menggerakkan seluruh tubuhnya semakin banyak pula otak bekerja. Hal tersebut akan memacu terhadap kecerdasannya.
Aspek Menarik yang ketiga adalah, Mempermudah dalam Mengajar. Suatu saat saya melihat anak saya yang duduk di bangku SD kelas 2 mengalami kesulitan menghafalkan ciri-ciri makhluk hidup untuk bidang studi biologi. Sudah lewat 2 minggu, masih saja sulit menghafal dengan baik. Saya coba untuk membantunya menghafal. Lalu munculah ide untuk melagukan ciri-ciri makhluk hidup tersebut dengan mengubah reff lagu "Kenangan Terindah" milik grup band Samsons yang saat itu sedang populer baik di kalangan anak-anak, remaja maupun dewasa dengan syair sebagai berikut :
Enam ciri makhluk hidup
Yang telah Allah ciptakan
Dapat bergerak
Dan dapat berkembang biak
Bernafas senantiasa
Bereaksi pada rangsangan
Dan sangat membutuhkan pada makanan
Dan tumbuh
Karena lagu itu sedang populer, tak heran kalau menyedot perhatian anak saya, iapun tertarik untuk melagukannya. Saya bimbing dia untuk menyanyikannya, terus diulang hingga beberapa kali. Tidak ada kesulitan yang berarti, hingga kurang dari setengah jam ia dapat menyanyikanya sendiri dengan baik dan benar.
Dalam banyak hal suasana yang menyenangkan memudahkan proses kreatif. Hal tersebut bisa terjadi karena proses belajar dengan bermain menghilangkan tekanan untuk menghasilkan sesuatu, atau rasa cemas akan melakukan kesalahan dan mendorong untuk mencoba hal baru. Pastinya, membantu sekali dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Aspek menarik keempat adalah Menggali Potensi. Ketika membahas mengenai Pemberdayaan (empowerment), faktor ketiga untuk mencapai keberhasilan pendidik dalam mengajar, saya janjikan memberikan contoh bagaimana proses pemberdayaan yang terfokus pada "keunikan". Saya pernah menjadi Kepala SMP Swasta di Bekasi . Suatu saat saya menemukan seorang anak yang butuh penanganan khusus. Sebut saja anak itu dengan Candra. Candra adalah seorang alumni Sekolah Luar Biasa yang ingin melanjutkan ke SMA umum. Untuk bisa masuk ke SMA umum ia harus memiliki Ijazah SMP Umum sementara ijazah yang dimiliki adalah SMP Luar Biasa. Terpaksa ia harus mengulang 1 tahun di SMP untuk mendapatkan ijazah SMP umum. Tetapi itu tidak mudah karena setiap sekolah yang di datangi menolaknya dengan alasan khawatir kalaui ia tidak mampu mengikuti kurikulum yang ditetapkan di sekolah. Sampai akhirnya ia mendaftar di sekolah yang saya pimpin dan saya menerimanya. Masuknya Candra di sekolah saya adalah sebuah anugrah, karena saya bisa mempraktekkan pengembangan kurikulum yang tengah saya kembangkan (embrio Fun Teaching) di sekolah. Sesuatu yang menggembirakan hati, baru saja diterima sekolah, Candra mengalami perubahan yang dramatis. Sebelumnya ia merasa bahwa ia adalah anak yang tidak normal, apalagi setelah peristiwa ditolaknya masuk ke sekolah umum menambah keyakinannya bahwa ia adalah "anak yang beda", hal tersebut berdampak besar terhadap hilangnya rasa percaya diri. Diterimanya Candra, membobol habis keminderan yang selama ini ia rasakan. Dengan bangga ia kunjungi teman-teman dan saudaranya dengan menunjukan formulir pendaftaran sebagai bukti bahwa ia sudah menjadi orang normal.
Perasaan senang sepertinya sudah bisa didapatkan di awal masuk sekolah. Apalagi seluruh siswa sudah dikondisikan untuk menerima Candra apa adanya, antara lain tidak iri kalau Candra dibedakan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan target tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan Candra, membangkitkan motivasi belajar karena ia rasakan mudah. Apalagi ditambah dengan strategi pendekatan yang dikemas sedemikian rupa agar ia senang.
Saat itu timbullah dalam dirinya "Fadhiilatus Syu'ur lisysyaraf" (perasan dirinya mulya) rasa bahagia karena sadar bahwa dalam dirinya ada potensi yang bisa dikembangkan, karenanya rajin untuk masuk sekolah menjadi sebuah kebutuhannya. Membersihkan kelas menjadi kegiatan sehari-hari walaupun saat itu bukan tugasnya. Setiap ada kesempatan ia datangi saya untuk meminta tugas apa saja dan ia kerjakan setiap tugas dengan senang. Dari situ saya melihat ada potensi yang bisa ia tunjukan. Satu keunikan yang bisa dia tunjukan dengan baik adalah "Hospitality".
Bagaimana hal tersebut dapat terlihat ? Jawabanya adalah "Fun Teaching". Sebuah penjelajahan bathin yang telah lama dicari hingga ia masuk ke dalam suasana yang memberikan kebahagiaan, menghidupkan semua indra sehingga ia siaga menghadapi hal-hal unik. Dengan simulasi yang proporsional ia mampu menemukan siapa dirinya. Kunjungan ke rumahnya juga menjadi salah satu strategi jitu untuk menemukan hal-hal yang tak terduga dan kaitan-kaitan yang menyatu dengan potensinya. Tertarikkah anda memasuki dunia yang diliputi dengan kreatifitas ? Apakah anda berniat membangun upaya-upaya kreatif ? Inginkah anda mengasah kemampuan dalam bidang seni lukis, suara, akting atau musik ? Jika "ya" jawaban anda, Selamat ! anda siap menyadap kreatifitas serta mempelajarai cara mengembangkan, mengasah, sekaligus menjadikan kreatifitas bagian dari kehidupan anda. Fun Teaching adalah sebuah mesin yang menghasilkan begitu banyak kreatifitas, sengaja dibangun karena sadar bahwa kreatifitas memainkan peran teramat penting dalam meraih kebahagian pribadi dan keunggulan profesional. Orang kreatif adalah mereka yang unggul dalam pekerjaan, yang menemukan berbagai produk, melahirkan ide dan gagasan yang cemerlang, yang menelurkan berbagai karya keindahan. Manusia kreatif seringkali memiliki kehidupan sosial mengasyikkan dan merangsang, berinteraksi dengan banyak orang serta menjelajahi tempat-tempat yang menawan. Para guru yang kreatif tahu cara membantu muridnya agar menjadi orang dewasa yang mencintai dan memanfaatkan kehidupan secara maksimal dan mengerti cara memecahkan masalah ataupun mengilhami orang lain untuk meningkatkan peran dalam kehidupannya.
Sangat keliru, jika ada orang beranggapan bahwa kreatifitas adalah suatu sifat bawaan yang tidak bisa diolah.
Saya tidak berbakat, saya tidak terlahir untuk kreatif, bukanlah alasan Anda untuk tidak bisa membangun upaya-upaya kreatif. Karena bakat adalah hanya menempati 10 % dari kemampuan anda, selebihnya adalah, melakukan kommitment berlatih secara berkesinambungan.
The habbit is second nature, Kebiasaan adalah karakter yang kedua. Seorang yang yang tidak mempunyai sifat kreatif jika upaya kreatif dilakukan berulang-ulang maka kreatif menjadi sifat yang selanjutnya. Pada saat pertama kali anda harus membuat kebiasaan, pada akhirnya kebiasaan itu yang akan membentuk anda.
Menggunakan metodologi Fun Teaching akan membiasakan anda pada upaya-upaya kreatif yang terus menerus, sehingga tanpa terasa kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam diri anda. Bagaimana bisa terjadi ?, Perasaan gembira saat mengajar membebaskan anda dari dua penghalang utama kreatifitas – kepanikan dan khawatir yang berlebih. Saat kita mengalami kepanikan karena sedih atau tekanan psikologis, sukar sekali memunculkan ide baru atau memecahkan masalah pelik. Kepanikan membutakan akal dan menutup pikiran, atau malah kerja otak begitu cepat sehingga meninggalkan sebuah ide. Sikap khawatir yang berlebihan juga menghambat kreatifitas. Ia sering muncul akibat berharap pada kesempurnaan tujuan serta kritik diri yang melumpuhkan aliran ide dan gagasan. Orang yang mengalami khawatir yang berlebih seringkali takut mencoba hal yang baru jika ia belum yakin akan berhasil.