Senin, 12 Desember 2011

Tentang Mengajar menyenangkan


Seandainya mampu, kebanyakan dari guru menginginkan menjadi sosok yang bernilai bagi anak didiknya, mereka mungkin bermimpi menjadi idola bagi murid-muridnya atau berkhayal untuk menjadi seorang selebritis di komunitasnya, atau berharap menjadi guru yang menyenangkan yang mampu memberikan keriangan dan kegembiraan kepada murid-muridnya dari hari ke hari lewat upaya kreatif. Bersyukurlah, upaya mewujudkan mimpi itu benar-benar dapat dilakukan. Apapun latar belakang pendidikan atau pengalaman yang guru miliki, mereka mampu meraih lebih dari apa yang mereka bayangkan dan impikan. Dengan sekelumit pengalaman yang bersatu dengan gagasan dan strategi yang telah dikembangkan dan diuji di lapangan untuk keluar dari suasana kebekuan dalam mengajar, saya hadirkan sebuah catatan yang mudah-mudahan memberikan inspirasi bagi guru untuk menciptakan suasana yang melambungkan keceriaan serta menjadikan belajar yang semakin asyik. Siswa tidak lagi merasa belajar di saat belajar namun tujuan pendidikan yang diharapkan dapat diserap dengan benar dan mudah.Melalui kesempatan ini, saya mengajak anda untuk melihat bahwa guru yang mempunyai peran strategis untuk memastikan proses pembelajaran murid sesuai dengan pola pikirnya seringkali "gagal", karena penyajian materi di lembaga pendidikan pada umumnya berbentuk klasikal, sehingga sulit menerapkan metode yang beragam di dalam kelas. Sementara, kemampuan satu siswa dengan lainnya berbeda.Tidak perlu heran, kalau akhirnya seleksi masuk bagi siswa merupakan tuntutan. Ironisnya hal tersebut malah menjadi trend dan bergengsi, walau dengan dalih “keterbatasan bangku” atau "Sekolah Pavorit". Sayang sekali, mestinya lembaga pendidikan bisa lebih kreatif dengan mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan keadaan murid, bukan malah memaksakan murid untuk bisa menyesuaikan diri dengan kurikulum. Dulu, ketika calon guru kuliah, tentunya ia mendapatkan mata kuliah penting yaitu ”Pengembangan Kurikulum”. Harapannya adalah bahwa seorang guru harus mampu membuat sebuah kurikulum berdasarkan ciri-cirinya, tapi sayang, mata kuliah tersebut sepertinya kurang dimanfaatkan dengan baik Karena sekolah atau guru sepertinya sudah cukup dengan kurikulum yang berlaku. Untunglah, situasi seperti ini justru melejitkan kreatifitas saya untuk mengembalikan lagi sosok guru pada masa keemasannya dimana ia begitu dekat dengan muridnya, anggun, indah, dinamis, kreatif serta mampu menyelami pola pikir murid. Dengan demikian ia benar-benar menjadi bagian dari kehidupan muridnya.
Jalannya adalah, dengan sesuatu yang sangat sederhana, yaitu dengan menciptakan suasana belajar yang asyik, gembira serta menyenangkan. Dengan demikian upaya memberikan materi sesuai dengan pola pikir murid tidak lagi menjadi harga mati, bahkan anda bisa melakukannya dengan kerangka balik yaitu dengan persepsi bahwa anak mempunyai perspektif yang sama dalam hal “kesenangan” maka anda perlu memberikan kepada mereka upaya-upaya kreatif sebagai upaya untuk menimbulkan efek senang. Harapannya adalah, dengan suasana belajar yang menyenangkan mampu mengangkat kemampuan berpikir mereka. Pada gilirannya sesulit apapun materi yang diberikan akan lebih mudah diterima oleh murid.Setiap kali mendengar pendidikan yang modern, yang terbayang di benak banyak orang adalah fasilitas yang luar biasa. Sehingga bagi banyak orang tua, untuk mengambil keputusan tempat mana yang baik untuk menyekolahkan anak-anak mereka, lihat dulu sekolah mana yang memiliki fasilitas memadai. Saya setuju kalau fasilitas yang memadai itu penting untuk menunjang kegiatan belajar. Namun pengertian fasilitas, jangan selamanya terbatas pada hal-hal yang bersifat materiil. Harus dipahami bahwa sosok seorang gurupun merupakan fasilitas yang perlu mendapatkan perhatian. Bagi sekolah yang hanya berorientasi pada bisnis, yang berusaha keras agar menarik minat banyak murid, fokus mereka hanya memperindah fasilitas materiil dan melupakan bahwa fasilitas yang ada pada guru harus dikembangkan. Mereka berpikir bahwa fasilitas yang memadai cukup untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Sahabatku, pola pikir yang demikian adalah tidak benar. Perlu diketahui bahwa fasilitas yang bersifat materiil relatif statis bahkan akan mengalami penyusutan. Bisa anda bayangkan bagaimana sekolah yang selalu mengandalkan audio visual lengkap, bagaimana kalau tiba-tiba listrik padam, apa yang dapat guru lakukan, masih bisakah pelajaran berlangsung dengan menarik ?. Atau anggap semuanya berjalan lancar,  tetapi murid sesekali mengalami kejenuhan, lalu apa yang bisa guru lakukan ?. lalu bagaimana kalau terpaksa harus belajar di tempat yang tidak memadai, masih bisakah pelajaran berlangsung dengan menarik ?. Jawabannya adalah "Mission Imposibble". Itu sulit dilakukan jika orientasi sekolah hanya fasilitas yang bersifat materiil. Kerja keras dunia pendidikan adalah, mengarahkan para guru untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan apa yang ada pada diri mereka, "Your Body is Your facility". Anda pasti mengenal baik dengan sosok Dik Doang seorang selebriti yang kerap muncul di layar televisi sebagai duta pendidikan. Satu hal yang menarik perhatian bagi saya dan penting untuk saya munculkan adalah kepiawaiannya dalam membagi kenikmatan ilmu. Ia telah sukses menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan mengandalkan fasilitas yang ada pada dirinya. Senyumnya yang khas, olah tubuhnya yang memikat, kalimat indah yang selalu mengalir deras dari mulutnya, belum lagi kalau dia bernyanyi, memberikan kegairahan yang luar biasa. Padahal, tempat dimana terjadinya proses belajar hanya di pinggir rel kereta api. Bayangkan, tentu panas, bising, dan yang pasti suasana tidak kondusif. Tapi nyatanya, belajar berjalan dengan baik. Lalu bagaimana dengan suara kereta api yang lewat ? Sahabatku, kesenangan melahirkan kreatifitas, kreatifitas membuka jalan keluar pada setiap permasalahan, dengan tenang Dik Doang mengatakan ketika kereta lewat "anak-anak pelajaran kita tunda dahulu karena ada yang mau lewat.".
Sahabatku, Belajar tidak selalu berurusan dengan hal-hal yang bersifat serius, Sesungguhnya, kemampuan bermain merupakan unsur penting dalam banyak hal terlebih kreatifitas, bermain mencakup semua bentuk senang-senang, termasuk mainan, olah raga, bercanda, serta aktifitas lain yang mungkin tampak remeh namun memberikan dampak yang begitu besar. Apapun bentuknya di dalam bermain kita menanggalkan sikap serius yang berlebih, namun di balik itu kita menemukan beragam sisi baik termasuk perubahan. Bukankah belajar merupakan sebuah proses perubahan seseorang dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Maka, jika seorang anak pada awalnya tidak mampu melompat, lalu dengan bermain timbul kemampuan itu, maka tidak disangkal lagi bahwa bermain merupakan bagian dari belajar. Fun memiliki arti : menyenangkan, sedangkan Teaching berarti Pengajaran, maka "Fun Teaching" berartii bagaimana menciptakan suasana belajar yang gembira. Bukan berarti menciptakan suasana glamor dan hura-hura. Kegembiraan di sini artinya membangkitkan minat (gairah untuk belajar), merangsang keterlibatan penuh serta menciptakan pemahaman atas materi yang dipelajari. Penyajian metode belajar yang bervariatif perlu diberikan kepada murid agar tidak terjadi kejenuhan dalam belajar. Suasana belajar harus diciptakan sedemikian rupa agar murid tidak merasa terbebani dengan beragam materi., Perasaan senang dapat hadir seiring dengan tujuan pendidikan yang dapat diserap dengan baik dan mudah. Hal tersebut dapat terjadi karena seseorang yang berada dalam kondisi yang menyenangkan tahan dan sigap dalam menghadapi beragam bentuk tantangan. Sebaliknya, seseorang yang sulit mengendalikan emosi akan mengalami Emotional Hijacking (pembajakan emosi), berarti orang tersebut akan terlanda kegugupan (nervous) dan gampang keliru dalam mengambil keputusan atau menggunakan IQ-nya.
Pendekatan Bermain, Bercerita dan Bernyanyi dalam belajar tentunya tidak asing bagi dunia pendidikan. Dalam beberapa kesempatan pendekatan tersebut kerap digunakan, namun penggunaanya masih terbatas dan bersifat insidentil. Fun Teaching mencoba untuk mencari ruang agar bisa masuk pada setiap bentuk pembelajaran.
Sahabatku, sejenak kita lihat apa yang sering kita jumpai di lingkungan kita dimana banyak para orang tua, ketika mendapati anaknya pulang dari sekolah, kalimat yang terlontar adalah “ Belajar apa tadi di sekolah nak ?”. Saya yakin ucapan yang keluar tadi merupakan ekspresi rasa peduli orang tua kepada anak, namun hal tersebut kadangkala bukan menimbulkan efek yang baik bagi anak, bahkan sebaliknya.
Bisa jadi seorang anak begitu banyak beban di sekolah akibat gurunya yang hobi marah misalnya, atau ia bertengkar dengan teman sekelasnya atau lingkungan kelasnya yang setiap hari menambah kejenuhan atau banyak lagi ketidaksukaan lainnya, sehingga begitu bel sekolah dibunyikan tanda pulang, spontan anak itu berteriak keras “horee…. Aku bebaaaaaas”. Sebuah ekspresi gembira karena telah terlepas dari banyak beban yang ia terima hari ini, dan ia ingin segera melupakannya. Tetapi, ketika ia sampai dirumah dan disambut dengan pertanyaan orang tuanya, malah membuat ia kesal, karena mengingatkan kembali pada peristiwa-peristiwa menjemukan yang ingin ia lupakan. Apalagi jika dilanjutkan dengan serentetan tugas yan harus mereka kerjakan maka menambah sempurnalah kekesalan mereka Mengapa orang tua tidak memulai dengan pertanyaan “bagaimana anakku hari ini, apakah kamu senang ?”. Tentunya pertanyaan tersebut bukan hanya sekedar pertanyaan, tetapii kesungguhan untuk membuat rasa senang kepada anak. 
Pastikan anak senang dalam belajar. Upaya yang tergesa-gesa agar anak mampu mengusai sesuatu seringkali membunuh motivasi anak untuk belajar, semakin keras kita memaksa anak untuk dapat mengetahui atau bisa melakukan sesuatu, semakin keras pula ia susun kekuatan untuk menolaknya.
Sekali lagi, pastikan anak senang dengan sesuatu, jika anak sudah senang dengan sesuatu maka ia akan bersemangat untuk meraihnya, jangankan dengan fasilitas yang memadai, dengan tidak diberikan fasilitaspun ia akan berupaya mencarinya.
Saya berikan contoh seorang anak SD yang senang sekali dengan menggambar atau musik, bukan hanya menuntut orang tua untuk membelikan peralatan menggambar dan musik, diapun rela untuk tidak jajan dan selalu mengumpulkan uang demi memiliki alat menggambar dan musik tersebut.
Ketika saya SMP, saya suka sekali dengan pelajaran sejarah. Tanpa disuruh guru ataupun orang tua saya terus membaca dan menghafalnya, sampai saya berpikir , saya harus mempunyai sebuah tape recorder. Hal tersebut terus memompa motivasi saya untuk memilikinya meskipun pinjam ke sana ke mari, akhirnya saya dapat menggunakannya demi memenuhi kebutuhan fasilitas belajar. Sebenarnya untuk apa tape recorder itu ? alat itu saya gunakan untuk merekam bacaan sejarah saya, hingga saya tidak perlu lagi mengulangi bacaan saya untuk menghafalkannya, saya cukup memutar kembali apa yang sudah saya rekam dan mendengarkan sambil tidur dan kadang sambil memakan sesuatu. Bisa dibayangkan saat itu saya tidak terlihat sedang belajar tetapi sedang bersenang-senang.
Kata kuncinya adalah, seorang yang senang dalam bekerja maka ia tidak sedang bekerja, dan seorang yang senang dalam belajar sesungguhnya ia tidak sedang belajar.
Ada yang beranggapan bahwa, bermain menjad penghambat dalam belajar, seolah kebijakan yang berlaku adalah, seorang anak dikatakan tidak rajin dan malas jika ia sering bermain dan tidak belajar giat. Padahal seperti yang telah saya ungkapkan bahwa belajar merupakan bagian dari proses belajar.
Bermain mempermudah kita memasuki kondisi pikiran yang mengandung unsur-unsur kreatifitas, sifat ingin tahu, daya khayal, coba-coba, fantasi, spekulasi serta wawasan baru.
Bersenanglah !
Mulailah mengawali hari anda dengan mengucapkan “Bersenanglah” kalau perlu tulis dengan huruf besar dan tempelkan di tempat yang sering anda lihat, maka kalimat tersebut akan segera mengambil alih kehidupan anda.
Fun everyone fun, All of your troubles will vanish like bubbles”. Kalimat ini mengalirkan keyakinan yang kuat bagi saya bahwa ketegangan, panik, dan terlalu serius sedikitpun tidak membantu menyelesaikan sebuah masalah, bahkan akan menjadikan masalah tersebut semakin rumit saja, sebaliknya kesenangan yang di dalamnya memiliki unsur ketenangan sangat membantu melepaskan seberat apapun kesulitan.
Pada tahun 2000, datang tawaran kepada saya untuk bekerja di salah satu perusahaan jasa di Jakarta sebagai interpreter Bahasa Arab. Setelah diputuskan bahwa dua hari lagi akan dilakukan tes masuk, awalnya saya begitu tegang, maklum baru pertama kali dalam hidup saya mengalami tes masuk kerja, apalagi sejak lima tahun lalu saya sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Bahasa Arab. Khawatir ”GAGAL” menjadi penyebab utama ketegangan saya. Sambil mempersiapkan segala sesuatu, ketegangan saya semakin bertambah, seiring ketegangan yang bertambah kekhawatiranpun semakin menjadi, sepertinya bekal yang saya miliki belum apa-apa untuk menghadapi tes yang tampak seperti ”MONSTER”. Semakin besar ketegangan semakin besar pula kebingungan saya. Apa yang harus saya lakukan ? mana yang harus saya dahulukan untuk di baca ?. Semua bahan bacaan, materi, literatur, dan buku-buku yang ada terlihat ”PENTING” semua dibuka namun tak satupun terbaca, sampai akhirnya saya putuskan untuk "Tenang!, tenang! dan saya harus tenang”.
Sesaat setelah saya putuskan untuk tenang dan sedikit relaksasi disertai dengan tarikan nafas yang begitu dalam, maka irama jantung dan aliran darah mulai terdengar indah, dengan ritmenya yang begitu harmonis membantu saya memandang setiap langkah menjadi mudah. Tak ayal ketenangan menggiring saya untuk mulai membuka dan membaca satu-persatu buku yang berkaitan dengan materi tes sampai pada kesimpulan ”Saya Harus Siap”. Bukan kesombongan tetapi sebuah upaya untuk memompa semangat menghadapi tantangan. Saat itu saya berpikir untuk apa saya khawatir. Toh yang akan mengetes saya manusia juga seperti saya, kalau saya berhasil, Alhamdulillah memang itu harapan saya. Dan jika gagal, apa yang saya risaukan, pengetespun tidak kenal saya, enjoy sajalah, sebentar peristiwa itu juga berlalu, saya dan dia akan melupakan apa yang terjadi, mengapa mesti takut ? kalaulah hal tersebut terjadi pada saat ini pasti saya katakana : “ Takut ? Apa kata dunia” Dengan mantap saya jalani beberapa tes, sampai pada satu pertanyaan ; ”Apakah anda mampu menulis Bahasa Arab dengan Komputer ?”, dengan penuh optimis saya menjawab ”hari ini saya tidak bisa pak, tapi dua hari lagi saya bisa ”. Sebentar pengetes terdiam, lalu berkata : ” Ya sudah, kapan anda mau mulai bekerja ?”. Luar biasa, dari cerita tadi saya ingin simpulkan bahwa rasa senang membantu meringankan rasa khawatir yang berlebih atau mengurangi ketegangan, dengan energi senyum mampu melahirkan ide yang menakjubkan serta menyuntikkan gairah baru yang terpancar dalam semangat optimisme. Sebaliknya, rasa takut dan khawatir yang berlebih bisa menjadi perusak kehidupan kreatif, mengurangi kemampuan berinteraksi dan mencegah dari datangnya masukan yang berharga. Salah satu kiat mengatasi hal tersebut seperti yang dicontohkan di atas, ingatlah bahwa orang lain hanyalah manusia biasa. Mereka tidak berkuasa atas diri anda. Resiko yang ditimbulkan dari berinteraksi relatif kecil. Hal yang terburuk yang bisa orang lain lakukan adalah menyatakan bahwa ia tidak tertarik pada anda. Dan itu bukan alasan bagi anda untuk bersedih, ketahuilah, bahwa banyak orang besar atau ide cemerlang awalnya tertolak. Oleh karena itu bersenanglah !.
Kenapa Harus Fun Teaching ?
Untuk mengetahui apakah anda berhasil mendidik seorang murid, anda bisa melihat apakah pendidikan yang anda berikan telah memenuhi 3 faktor penting.
Yang pertama, adalah Pertumbuhan (improvement). Indikasinya adalah perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Pendidikan dikatakan berhasil, apabila guru tahu cara membantu muridnya agar menjadi orang dewasa yang mencintai dan memanfaatkan kehidupan secara maksimal dan mengerti cara memecahkan masalah ataupun mengilhami orang lain untuk meningkatkan peran dalam kehidupannya. Sahabatku, Kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dengan usia, adakalanya seorang yang sebenarnya sudah dewasa tetapi perilakunya kekanak-kanakan, sementara tidak sedikit orang yang usianya masih muda tetapi mampu bersikap dewasa.
Sayangnya kedewasan banyak ditafsirkan salah oleh banyak orang. jika melihat orang-orang yang dalam kehidupannya tampak diam dan serius spontan dikatakan dewasa, sedangkan jika melihat orang yang dalam kehidupannya selalu bermain, gembira dan bercanda, spontan dikatakan tidak dewasa. Jika anda terlanjur berkesimpulan demikian, maka rubahlah ! Karena yang menjadi ukuran kedewasaan adalah kematangan. kematangan secara psikoligis, dan kematangan yang paling penting adalah kematangan spiritual. Kedewasaan biasanya bisa dilihat bagaimana seseorang mengambil sebuah keputusan. Suatu ketika Khalifah ke dua, Umar ibn Khothob ra. Menuju Mekkah. Tiba-tiba seorang pengembala turun dari gunung menghampiri rombongan Umar ra. Umar ra. berkata kepadanya untuk mengujinya, "Hai pengembala, juallah satu ekor kambing di antara kambing-kambing itu kepada kami". Pengembala itu berkata : "Saya adalah seorang budak". Umar ra. berkata kepadanya : "Katakanlah kepada tuanmu bahwa kambing itu dimakan srigala ". Pengembala itu bertanya "Dimana Allah" Maka menangislah Umar ra. Lalu berangkat bersama budak itu. Kemudian ia dibeli dari tuannya dan dibebaskannya. Umar ra, berkata kepada budak pengembala itu, "Kalimat ini telah memerdekakanmu di dunia ini dan aku mengharapkan semoga kalimat inipun memerdekakanmu di akherat".
Suatu saat seorang santri ditawarkan oleh teman-temannya untuk melakukan perbuatan maksiat “ ayolah minum, ayolah kita bermabuk ria janganlah sok alim, jangan kampungan.” Demikian perkataan mereka merayu santri untuk bersama-sama melakukan maksiat, lalu sang alim berkata “anda tahu, orang mabuk sebelum datangnya Islam sudah banyak, anda tahu orang berbuat maksiat sebelum trunnya Al Quran sudah banyak, jika hari gini masih ada orang yang minum-minuman serta banyak berbuat maksiat maka orang tersebut adalah kuno dan sangat kampungan, karena bukanlah sesuatu yang modern yaitu mengulangi perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu.
Dua contoh cerita tadi kiranya menggambarkan kematangan seorang anak akan kecerdasan spiritual. Dengan demikian pendidikan yang telah diterima oleh pengembala dan santri adalah sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
Faktor yang kedua adalah Pengembangan (development). Saya pernah mendengar seorang mantan ketua organisasi sebut saja OSIS berkata, "Waktu saya jadi ketua OSIS seluruh kegiatan berjalan dengan baik, lihat piala-piala serta penghargaan yang telah saya dapat". Selanjutnya ia mencela "mana pengurus OSIS sekarang, payah tak satupun piala bisa didapatkan.".
Adalagi seorang mantan ketua RT berkata, "Wah bagusan waktu saya jadi ketua RT, lingkungan bersih, aman dan administrasi teratur rapi, kalau ketua Rt sekarang mah nggak becus, kemaren aja ada yang kemalingan". Giliran mantan Kepala Sekolah berkata, "Emang enak jadi kepala sekolah, murid pada bandel guru-guru demo terus nuntut naik gaji, waktu saya jadi kepala sekolah aman dan terkendali, enggak ada tuh yang kayak gituan". Para mantan ketua tadi sepertinya memiliki kebanggaan yang tiada tara, karena menganggap bahwa orang lain atau generasi dibawahnya, tidak lebih baik dari mereka. Tentu saja perkataan mereka malah menjadi bukti bahwa mereka telah gagal dalam bekerja, mereka telah melupakan regenerasi atau proses duplikasi. Seorang dikatakan pemimpin jika ia telah mampu menciptakan pemimpin baru, atau generasi yhang baik adalah generasi yang mampu mewariskan kebaikan pada generasi berikutnya.
Jadi pengembangan yang dimaksud adalah bagaimana seorang dapat sukses dalam pendidikan dan mampu melakukan sebuah aktifitas kemudian iapun mampu menjadikan orang lain menjadi sukses. Ibarat berkembangnya sebuah pohon , setelah berbuah, dia tidak hanya berbuah untuk satu pohon tetapi ia bisa menimbulkan pohon-pohon yang lain.
Faktor ketiga adalah Pemberdayaan (empowerment) Ketika awal diluncurkan KBK (Kurikulum berbasis Kompetensi) bagi saya merupakan angin segar. Ada kerinduan yang mendalam akan terciptanya generasi yang siap mengisi sejarah di masa depan. Namun ketika memasuki tahapan aplikasi dengan grand design standar kelulusan yang mementingkan 3 bidang studi yaitu Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, justru dengan telak telah membunuh semangat KBK. Begitu banyak potensi yang ada di dalam kehidupan ini yang seluruhnya layak mandapatkan perhatian yang sama, diabaikan dengan sistim kelulusan tadi.
Beberapa anak saya tanya : “bidang studi apakah yang menurut kalian paling mudah ?” maka ada yang menjawab ” Kesenian pak!, Ketrampilan pak!, olah raga pak! dan sebagainya. Kemudian saya lanjutkan dengan pertanyaan kedua : “kamu yang menganggap bidang studi kesenian mudah, Apakah kamu pernah mendapat nilai sembilan pada kesenian ? lau jawabnya “tidak”. Demikian selanjutnya saya tanyakan kepada lainnya yang menganggap ketrampilan mudah atau olah raga atau lainnya, dan sebagian besar mereka belum pernah mendapatkan nilai 9 pada bidang studi yan mereka anggap mudah.
Maka nasehat saya kepada mereka prioritaskanlah pelajaran yang kamu anggap mudah daripada pelajaran yang kamu angap susah. Karena biasanya kamu cenderung konsentrai dengan pelajaran yang sulit lalu mengabaikan pelajaran yang mudah. Padahal, pelajaran yang mudah adalah kekuatan masing-masing individu karena setiap orang mempunyai keunikan. Jika ketrampilan adalah mudah maka pastikan kamu mendapatkan nilai sembilan, Kalau perlu tambah dengan les ketrampilan pada guru atau orang yang dianggap mahir demi nilai ketrampilan yang sempurna. Itu mudah karena ketrampilan adalah kekuatanmu (bakat) dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menguasainya. Sementara sisa waktu, bisa digunakan untuk mulai melirik pada pelajaran yang terasa susah.

Umumnya sebagian anak mengambil les pada bidang studi yang diangap susah dan mengabaikan bidang studi yang mudah, akhirnya bidang studi yang sulit meski kerja segenap upaya tidak begitu banyak hasil karena memang bukan kekuatannya. Sementara bidang studi yang mudah cenderung diabaikan sehingga tidak ada bidang studi yang menjadi kekuannya.
Bukankah salah satu tujuan pendidikan adalah mempersiapkan anak untuk siap menghadapi kehidupan mendapang ? bekal apa yang ia miliki untuk mengatasi kehidupannya kelak ? Kalau ada anak yang hanya mahir dalam kesenian, berikanlah fasilits untuk menunjangnya, bukankah telah banyak orang yang sukses dengan kesenian ?. Kalau ada anak yang hanya bisa berolah raga, biarkan mereka mengembangkan dirinya dengan olah raga, bukankah sudah banyak contoh orang yang mampu melewati kehidupannya dengan baik melalui olah raga ? demikian juga dengan kekutan-keutan lainnya.
Berkaitan dengan pemberdayaan, maka yang menjadi fokus kita adalah "keunikan" dimana anak memiliki kecakapan yang beragam.
Semua orang mempunyai potensi untuk berhasil dengan keunikan masing-masing. Saya sangat prihatin, ketika seorang anak mendapatkan nilai 5 dalam ulangan matematika, maka kesan guru atau orang tua terhadap anak tersebut adalah Bodoh dan Tidak Pintar, bahkan Negarapun mengklaim dia sebagai orang yang Gagal dan melupakan potensi lain yang di miliki anak tersebut.
Dunia pendidikan seharusnya tidak mengenal istilah "orang ini bodoh" dan "orang ini pintar", karena semua orang pintar dengan keunikannya masing-masing. Pada pembahasan tentang aspek menarik yang bisa dihasilkan oleh Fun Teaching akan diberikan contoh mengenai hal tersebut.
Setelah dijelaskan mengenai tiga faktor penting mencapai keberhasilan dalam proses belajar, Anda perlu jawaban bagaimana agar proses tersebut dapat berjalan dengan efektif ? Jawabannya adalah "FUN". Belajar akan efektif kalau fun, menyenangkan. Jika anda seorang guru, cobalah masuk ke dalam kelas kemudian katakan kepada murid-murid anda : "Anak-anak kemarin sore saya berjalan-jalan ke super market, ketika saya melihat sebuah coklat saya teringat dengan wajah-wajah kalian, ingin saya membeli semua coklat untuk kalian, tetapi uang saya tidak cukup, akhirnya saya hanya bisa membeli satu buah coklat dan coklat ini hanya akan saya berikan orang yang yang pantas menerimanya. Jadi, hari ini kita tidak belajar, sebagai gantinya saya akan mengadakan sebuah kuis, siapa yang bisa menjawab kuis dengan baik berarti coklat berhak menjadi milik anda.".
Para murid pasti gembira, karena ada suasana yang berbeda dan sungguh menyenangkan. Tapi coba katakan kepada murid-murid anda :" anak-anak masukan buku bacaan kalian, siapkan buku tulis dan pensil, hari ini.... kita ulangan" Serempak murid anda akan mengatakan " Yaa......", tentunya dengan suasana hati yang kecewa. Dua pernyataan anda tadi sebenarnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin mengadakan evaluasi belajar kepada murid anda. Penggunaan bahasa atau metodologi transformasi sangat berpengaruh pada reaksi murid. Jika dikemas dengan suasana fun, akan mendapatkan reaksi yang positif dari murid anda. Sebaliknya, jika ketegangan yang dimunculkan, maka jangan salahkan murid jika mereka kehilangan antusias dalam belajar
Anda bisa bayangkan, kalau suasana belajar selalu fun, maka motivasi belajar murid akan muncul dan terus bertambah. Dengan demikian efektifitas belajar akan berjalan dengan baik. Dalam kaidah fiqhiyah dituliskan : "Sesuatu, bila denganya menjadi sempurna sebuah kewajiban, maka sesuatu itu adalah wajib. Satu misal, jika seorang wajib datang ke tempat bekerja tepat waktu, sementara untuk bisa datang tepat waktu harus menggunakan kendaraan, maka berkendaraan adalah wajib. Sama halnya dengan Fun Teaching, jika belajar merupakan kewajiban, sementara suasana belajar yang menyenangkan diperlukan untuk memotivasi siswa dalam belajar dan memudahkannya untuk menyerap beragam ilmu, maka Fun Teaching menjadi sesuatu yang wajib dan tidak bisa dilepaskan dalam kegiatan belajar mengajar. Sebuah survey menunjukkan betapa mutu pendidikan di Indonesia nyaris terbawah
Aspek menarik yang bisa dihasilkan oleh Fun Teaching
Aspek menarik yang pertama adalah memberi hak pada hati. Baik sekali apabila anda memahami betul kebutuhan hati, hati mempunyai peran sangat penting dalam mewarnai aktifitas hidup, suasana hati yang sedih seringkali menghalangi bentuk-bentuk kreatifitas, menyedot banyak energi dan antusias seseorang. Misalnya seorang pekerja yang suasana hatinya begitu kacau, bisa dipastikan ia merasakan begitu berat setiap tugas yang diterima walaupun sekedar rutinitas kecil dari pekerjaannya. Dalam dunia pendidikan betapa banyak kita saksikan siswa yang tidak konsentrasi dalam belajar bahkan berani mengambil keputusan untuk membolos akibat perasaan hatinya yang tidak bahagia.
Banyak seniman yang saya jumpai amat terpengaruh dengan suasana hati, jangankan menghasilkan karya yang spektakuler, untuk sebuah kreatifitas yang sederhanapun sulit mereka munculkan.
Sebaliknya, suasana hati yang penuh suka cita mampu menjadikan pikiran dan kreatifitas mengalir deras, merangsang kuat pada perasaan, ide serta wawasan.
Pikirkan tentang anda, apabila diri anda telah mampu mengeksplorasi diri anda sehingga daya tangkap pancaindra murid meliputi penglihatan, pendengaran dan rasa dapat dikoordinasikan dengan baik, akan menyelaraskan suasana belajar dengan suasana hati.
Aspek menarik selanjutnya adalah Memacu Keverdasan. Fun Teaching merupakan cara jitu untuk memacu dan mengembangkan kecerdasan. Belajar yang dikemas dengan gerak dan lagu kadang diiringi musik akan mempertajam kecerdasan kinestetik–tubuh. Membiasakan dalam bersyair dan menekuni puisi akan meningkatkan kecerdasan verbal-linguistik. Menonton film yang menampilkan keadaan sosial masyarakat memacu kecerdasan emosional. Wisata ke alam terbuka menyaksikan proses kejadian alam melahirkan kecerdasan spiritual. Sementara itu, mengerjakan teka-teki yang sulit dapat memupuk kecerdasan matematik-logis.
Masih banyak lagi kecerdasan yang disumbangankan oleh suasana belajar yang menyenangkan termasuk hal yang seringkali dianggap negatif oleh para pendidik, yaitu maraknya Play Station.
Ini hanya masalah sudut pandang. Sebuah objek sperti playstation jika dilihat dari sudut pandang salah, maka objek itu akan menjadi jelek, namun jika playstation dilihat dari sudut pandang yang benar maka kegiatan tersebut menjadi baik. Sisi baik yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah sebagai daya dorong dan pendongkrak imajinasi.
Ada sebuah kisah menarik berkaitan dengan cara memandang, seperti yang saya kutip dari buku Life Excellence karya Reza M Syarif : Di sebuah kerajaan tinggalah seorang raja. Karena sebuah kecelakaan, kuping sang raja putus satu. Kemudian dia mengundang tiga orang pelukis untuk melukis. Pelukis yang pertama membuat lukisan raja itu apa adanya. Kemudian diserahkan lukisan itu kepada raja, dengan harapan akan menjadi pemenang. Tetapi dia tidak menang. Kenapa ? Karena dia melukis apa adanya sehingga raja tidak berkenan melihat lukisan dirinya yang hanya bertelinga satu. Kemudian masuk pelukis kedua. Dia melukis wajah raja dengan dua telinga, padahal telinga raja satu sudah putus. Dia berharap jadi pemenang karena sudah memperindah kondisi sang raja dalam lukisannya. Tetapi, ternyata dia kalah. Kenapa ? Karena raja tidak suka dengan orang yang suka cari muka, yakni memperindah lukisan dari objek yang sebenarnya. Muncullah pelukis yang ketiga. Dia seorang yang pintar. Dia tidak melihat wajah sang raja dari arah depan (seperti dua pelukis sebelumnya), dia lihat dari arah samping. Dia lukis sang raja saat terlihat kuping yang masih sempurna sehingga kuping yang satu tidak terlihat. Maka dialah yang jadi pemenang. Kembali kepada Fun Teaching sebagai pemicu kecerdasan, kita sama tahu bahwa tidak ada gerak tubuh manusia yang tidak diperintah oleh otak. Metode belajar yang mengerahkan segala potensi tubuh mulai dari gerak kasar sampai halus bahkan olah rasa, akan memacu daya kerja otak. Seorang anak yang enerjik merupakan kredit poin untuk menjadi seorang yang cerdas di masa dewasanya. Semakin banyak anak menggerakkan seluruh tubuhnya semakin banyak pula otak bekerja. Hal tersebut akan memacu terhadap kecerdasannya.
Aspek Menarik yang ketiga adalah, Mempermudah dalam Mengajar. Suatu saat saya melihat anak saya yang duduk di bangku SD kelas 2 mengalami kesulitan menghafalkan ciri-ciri makhluk hidup untuk bidang studi biologi. Sudah lewat 2 minggu, masih saja sulit menghafal dengan baik. Saya coba untuk membantunya menghafal. Lalu munculah ide untuk melagukan ciri-ciri makhluk hidup tersebut dengan mengubah reff lagu "Kenangan Terindah" milik grup band Samsons yang saat itu sedang populer baik di kalangan anak-anak, remaja maupun dewasa dengan syair sebagai berikut :
Enam ciri makhluk hidup
Yang telah Allah ciptakan
Dapat bergerak
Dan dapat berkembang biak
Bernafas senantiasa
Bereaksi pada rangsangan
Dan sangat membutuhkan pada makanan
Dan tumbuh
Karena lagu itu sedang populer, tak heran kalau menyedot perhatian anak saya, iapun tertarik untuk melagukannya. Saya bimbing dia untuk menyanyikannya, terus diulang hingga beberapa kali. Tidak ada kesulitan yang berarti, hingga kurang dari setengah jam ia dapat menyanyikanya sendiri dengan baik dan benar.
Dalam banyak hal suasana yang menyenangkan memudahkan proses kreatif. Hal tersebut bisa terjadi karena proses belajar dengan bermain menghilangkan tekanan untuk menghasilkan sesuatu, atau rasa cemas akan melakukan kesalahan dan mendorong untuk mencoba hal baru. Pastinya, membantu sekali dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Aspek menarik keempat adalah Menggali Potensi. Ketika membahas mengenai Pemberdayaan (empowerment), faktor ketiga untuk mencapai keberhasilan pendidik dalam mengajar, saya janjikan memberikan contoh bagaimana proses pemberdayaan yang terfokus pada "keunikan". Saya pernah menjadi Kepala SMP Swasta di Bekasi . Suatu saat saya menemukan seorang anak yang butuh penanganan khusus. Sebut saja anak itu dengan Candra. Candra adalah seorang alumni Sekolah Luar Biasa yang ingin melanjutkan ke SMA umum. Untuk bisa masuk ke SMA umum ia harus memiliki Ijazah SMP Umum sementara ijazah yang dimiliki adalah SMP Luar Biasa. Terpaksa ia harus mengulang 1 tahun di SMP untuk mendapatkan ijazah SMP umum. Tetapi itu tidak mudah karena setiap sekolah yang di datangi menolaknya dengan alasan khawatir kalaui ia tidak mampu mengikuti kurikulum yang ditetapkan di sekolah. Sampai akhirnya ia mendaftar di sekolah yang saya pimpin dan saya menerimanya. Masuknya Candra di sekolah saya adalah sebuah anugrah, karena saya bisa mempraktekkan pengembangan kurikulum yang tengah saya kembangkan (embrio Fun Teaching) di sekolah. Sesuatu yang menggembirakan hati, baru saja diterima sekolah, Candra mengalami perubahan yang dramatis. Sebelumnya ia merasa bahwa ia adalah anak yang tidak normal, apalagi setelah peristiwa ditolaknya masuk ke sekolah umum menambah keyakinannya bahwa ia adalah "anak yang beda", hal tersebut berdampak besar terhadap hilangnya rasa percaya diri. Diterimanya Candra, membobol habis keminderan yang selama ini ia rasakan. Dengan bangga ia kunjungi teman-teman dan saudaranya dengan menunjukan formulir pendaftaran sebagai bukti bahwa ia sudah menjadi orang normal.
Perasaan senang sepertinya sudah bisa didapatkan di awal masuk sekolah. Apalagi seluruh siswa sudah dikondisikan untuk menerima Candra apa adanya, antara lain tidak iri kalau Candra dibedakan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan target tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan Candra, membangkitkan motivasi belajar karena ia rasakan mudah. Apalagi ditambah dengan strategi pendekatan yang dikemas sedemikian rupa agar ia senang.
Saat itu timbullah dalam dirinya "Fadhiilatus Syu'ur lisysyaraf" (perasan dirinya mulya) rasa bahagia karena sadar bahwa dalam dirinya ada potensi yang bisa dikembangkan, karenanya rajin untuk masuk sekolah menjadi sebuah kebutuhannya. Membersihkan kelas menjadi kegiatan sehari-hari walaupun saat itu bukan tugasnya. Setiap ada kesempatan ia datangi saya untuk meminta tugas apa saja dan ia kerjakan setiap tugas dengan senang. Dari situ saya melihat ada potensi yang bisa ia tunjukan. Satu keunikan yang bisa dia tunjukan dengan baik adalah "Hospitality".
Bagaimana hal tersebut dapat terlihat ? Jawabanya adalah "Fun Teaching". Sebuah penjelajahan bathin yang telah lama dicari hingga ia masuk ke dalam suasana yang memberikan kebahagiaan, menghidupkan semua indra sehingga ia siaga menghadapi hal-hal unik. Dengan simulasi yang proporsional ia mampu menemukan siapa dirinya. Kunjungan ke rumahnya juga menjadi salah satu strategi jitu untuk menemukan hal-hal yang tak terduga dan kaitan-kaitan yang menyatu dengan potensinya. Tertarikkah anda memasuki dunia yang diliputi dengan kreatifitas ? Apakah anda berniat membangun upaya-upaya kreatif ? Inginkah anda mengasah kemampuan dalam bidang seni lukis, suara, akting atau musik ? Jika "ya" jawaban anda, Selamat ! anda siap menyadap kreatifitas serta mempelajarai cara mengembangkan, mengasah, sekaligus menjadikan kreatifitas bagian dari kehidupan anda. Fun Teaching adalah sebuah mesin yang menghasilkan begitu banyak kreatifitas, sengaja dibangun karena sadar bahwa kreatifitas memainkan peran teramat penting dalam meraih kebahagian pribadi dan keunggulan profesional. Orang kreatif adalah mereka yang unggul dalam pekerjaan, yang menemukan berbagai produk, melahirkan ide dan gagasan yang cemerlang, yang menelurkan berbagai karya keindahan. Manusia kreatif seringkali memiliki kehidupan sosial mengasyikkan dan merangsang, berinteraksi dengan banyak orang serta menjelajahi tempat-tempat yang menawan. Para guru yang kreatif tahu cara membantu muridnya agar menjadi orang dewasa yang mencintai dan memanfaatkan kehidupan secara maksimal dan mengerti cara memecahkan masalah ataupun mengilhami orang lain untuk meningkatkan peran dalam kehidupannya.
Sangat keliru, jika ada orang beranggapan bahwa kreatifitas adalah suatu sifat bawaan yang tidak bisa diolah.
Saya tidak berbakat, saya tidak terlahir untuk kreatif, bukanlah alasan Anda untuk tidak bisa membangun upaya-upaya kreatif. Karena bakat adalah hanya menempati 10 % dari kemampuan anda, selebihnya adalah, melakukan kommitment berlatih secara berkesinambungan.
The habbit is second nature, Kebiasaan adalah karakter yang kedua. Seorang yang yang tidak mempunyai sifat kreatif jika upaya kreatif dilakukan berulang-ulang maka kreatif menjadi sifat yang selanjutnya. Pada saat pertama kali anda harus membuat kebiasaan, pada akhirnya kebiasaan itu yang akan membentuk anda.
Menggunakan metodologi Fun Teaching akan membiasakan anda pada upaya-upaya kreatif yang terus menerus, sehingga tanpa terasa kreatif sudah menjadi kebiasaan dalam diri anda. Bagaimana bisa terjadi ?, Perasaan gembira saat mengajar membebaskan anda dari dua penghalang utama kreatifitas – kepanikan dan khawatir yang berlebih. Saat kita mengalami kepanikan karena sedih atau tekanan psikologis, sukar sekali memunculkan ide baru atau memecahkan masalah pelik. Kepanikan membutakan akal dan menutup pikiran, atau malah kerja otak begitu cepat sehingga meninggalkan sebuah ide. Sikap khawatir yang berlebihan juga menghambat kreatifitas. Ia sering muncul akibat berharap pada kesempurnaan tujuan serta kritik diri yang melumpuhkan aliran ide dan gagasan. Orang yang mengalami khawatir yang berlebih seringkali takut mencoba hal yang baru jika ia belum yakin akan berhasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar